Ustadz Jamaluddin Ibrahim adalah pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang mulai pada tahun 1996 hingga 2005. Estafeta kepemimpinan beliau sudah disiapkan oleh pemimpin sebelumnya yakni Ustadz Abdurrahman Muhammad sejak beberapa tahun sebelumnya.
Itulah barangkali salah satu "karomah" yang dimiliki Ust Abdurrahman yang kini menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah. Ust Abdurrahman memiliki kemampuan pembacaan yang tajam menembus dimensi sehingga dapat menyiapkan kader pelanjutnya.
Terbukti, di bawah kepemimpinan Ust Jamaluddin Ibrahim, kampus Hidayatullah Bontang berkembang pesat. Jaringan terbangun luas baik dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.
Ustadz Jamaluddin juga mampu menjadi penengah bagi berbagai entitas sosial dan lembaga keagamaan di Kota Bontang. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh banyak kisah tentang bagaimana kiprah dai yang selalu riang ini.
Ada sebuah peristiwa menarik yang terjadi pada tahun 1999 di Pesantren Hidayatullah Bontang, kalau saya tidak silap. Saya lupa tanggal dan bulannya, yang jelas saat itu saya masih SMP. Saat itu Ustadz Jamaluddin dipercaya menjadi mediator masalah tanah yang melibatkan salah satu tokoh gaek Bontang dan salah satu perusahaan.
Saat itu, sang tokoh yang cukup terkenal di Bontang itu hanya ingin mediasi dilakukan di Pesantren Hidayatullah Bontang. Padahal, aparat berwenang sebenarnya sudah menyiapkan markas mereka menjadi tempat. Alhamdulillah, kedua belah pihak tak keberatan dan pertemuan itu pun menghasilkan keputusan bersama.
Hari itu polisi berjubel di pondok. Kelompok massa pun terlihat berkerumun di sejumlah titik sekitar pesantren. Kami para santri tak mengerti sedang ada apa sejak pagi hingga siang selesap dzuhur itu. Belakangan baru kuketahui jika sedang terjadi perundingan menemukan titik temu antar dua belah pihak yang sedang bertikai.
Ada juga cerita lainnya. Kala itu, tahun 2000, ada pemilihan ketua MUI Bontang dan terjadi deadlock. Ada dua kelompok ormas besar yang belum menemukan titik temu, keduanya sama-sama merasa paling berhak menjadi ketua. Lagi-lagi Ustadz Jamaluddin yang dipercaya menjadi penengah atas kemelut tersebut.
Ustadz Jamaluddin memiliki perawakan tinggi dan sekilas terkesan galak. Tapi aslinya, beliau sangat ramah. Galak hanya kesan pertama ketika kali pertama berjumpa beliau, terutama karena sorot matanya yang tajam.
Sebagai catatan, tulisan biografi ini masih berupa catatan rintisan yang belum melalui pendalaman baik wawancara maupun penelaahan.
Materi tulisan ini berdasar dari pengalaman dan interaksi langsung penulis dengan beliau selama kami menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang. Selain juga melalui temuan melalui kisah yang dituturkan oleh sejawat-sejawatnya.
Sehingga artikel ini masih dapat dilakukan penambahan dan penyesuaian agar lebih sempurna. Karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari pembaca.
