Jumat, 06 Maret 2020

Lakukan Lupakan

Apa yang membuat hidup kita runyam dan selalu saja digempur beban masalah? Pikiran.

Pikiran yang dipadati dengan prasangka dan berbagai anggapan anggapan. Yang sebenarnya tak pasti. Tapi amat diyakini. 

Do it, forget it. Kerjakan, lupakan. Demikian sering disampaikan orang bijak. Ini sebenarnya teori ikhlas. Ikhlas itu, lakukan saja dan segera lupakan.

Analogi ikhlas itu seperti berak. Anda duduk di bilik WC (welcome) dan termenung seraya menikmati juntaian demi juntaian feses yang keluar tanpa beban. Mungkin saat itu Anda tersenyum mewah. Bangga. Sangat bahagia. 

Seketika setelah melepas hajat, sama sekali tak ada penyesalan. Dan, melupakan apa yang baru saja terjadi. Anda begitu ikhlas. Tak ada prasangka macam-macam.

Mengendalikan pikiran adalah menahan prasangka. Memang tidak mudah, tapi ini menentukan

Namun. Masalahnya, watak kita manusia memang girang betul jika dipuji. Senang sekali diangkat-angkat. Bahkan ingin selalu diakui. Sebagai ini. Sebagai itu.

Sehingga, apapun yang dibikin selalu menuntut pengakuan. Tak ada yang boleh luput dari perhatian orang. Haus pujian. Apresiasi. Posisi. 

Jika watak itu dibawa masuk ke dalam lingkar komunal, ia rentan menjadi gulma. Parasit gerakan. Orang terjangkit pandemik ini tak akan malu malu mendeklarasikan diri sebagai paling aku.

Aku yang merintis. Aku yang mengawali. Aku berjuang dan merangkak. Aku bergerak sendiri dan mengapa setelah jadi kalian datang mengakui? Dan masih banyak ke-AKU-an lainnya. 

Padahal, "keakuannya" sebenarnya tak tunggal. Ada nama besar yang membuatnya tampak kokoh dan bisa masuk ke mana mana. Dengan "nama" itu, ia pun diterima siapa dan di mana saja. 

Bukan kediriannya yang keliru, tapi pikirannya yang terlalu mengendalikan keakuannya. Ia tak sanggup menjernihkan pandangan tentang orientasi, visi, dan manifestasi iman Islam dalam setiap aspek kehidupan. 

Nampaknya, dia lupa belajar kepada para pendahulu yang menegasikan thaga' dan ketulusan pengabdian yang penuh sungguh.

Mereka pergi tugas tanpa peluru, bahkan tanpa bekal sarjana dengan IPK bermutu. Menembus semak belukar. Merintis. Berdarah darah. 

Mereka tulus bekerja. Dipindah pindah. Setelah cukup lama, ia dimutasi, untuk kemudian membuka lahan baru lagi.

Hingga di usia tuannya pun, tak juga pernah minta minta diperlakukan istimewa. Tak juga selalu mengaku-aku kecuali mungkin hanya pada anak cucunya sebagai pelajaran hidup bermutu.

Tujuan gerakan dan hidupnya memang bukan dunia. Sebab, dia sadar, semesta bahkan dengan seisinya ini tak pernah bisa memuaskan.

Tujuannya adalah kehidupan akhirat yang panjang dan hakiki sebenarnya. Ketulusannya terus mematut diri dalam ibadah-ibadah yang panjang, hanya ridha Allah yang dicari. Tidak henti. Selesai.