SAYA selalu berfikir bahwa usia saya di dunia ini tidak panjang. Itu pula yang membuat saya selalu membayangkan kematian akan datang setiap saat.
Entah karena sakit atau sebab lain seperti insiden dalam kehidupan dunia, yang pasti kematian memang selalu mengkhawatirkan. Kematian itu menakutkan. Dan, jujur saja, saya takut mati.
Ketakutan adalah hal biasa dan sangat manusiawi. Apalagi ketakutan dalam menghadapi kematian. Kematian adalah peristiwa besar. Maka tak heran ia begitu mencemaskan.
Kematian tidak bisa diidentifikasi, yang, oleh sebab itu, ia tak bisa diatasi dengan cepat. Kalaupun bisa diatasi, jika sudah waktunya tiba, tak ada yang mampu melawannya.
Hari hari ini banyak kita saksikan kematian tiba tiba manusia karena jantung yang berhenti berpacu. Tak pandang bulu muda dan tua. Orang orang hebat mencoba mengatasinya dengan berbagai kecanggihan teknologi rumah sakit. Kematian memang sempat sedikit tertunda tapi ia tetap terjadi.
Tapi kematian memang amat misterius, itulah mengapa ia adalah sebuah peristiwa besar. Kita hanya perlu membuka mata bahwa sejatinya kita sangatlah lemah. Kita tak punya daya. Apalagi upaya untuk sekedar menundanya sepersekian detik.
Mari kita mempersiapkan diri menghadapi peristiwa besar itu dengan persiapan persiapan yang besar pula. Dan tak ada yang besar di dunia ini selain amal kebaikan. Sebab, hanyalah kebaikan amal yang kita bawa mati. Bukan anak istri. Bukan harta bendawi.
Usia kita terlalu singkat. Tak ada yang bisa menyangkal tesis ini. Hanya saja kita seringkali sukar dalam menangkap pesan-pesan Ilahi bahwa betapa peringatan tentangnya berulangkali datang. Lantas, apa yang kita banggakan?
