DINI hari, lelaki tegap itu sudah terjaga. Dari kejauhan, ia mendengar suara dengking yang sudah tak asing baginya.
Milza Mardhan Taga, pemuda 24 tahun ini sudah hafal. Seperti hari-hari sebelumnya, jalan yang dilaluinya subuh itu akan sedikit membuatnya bergidik.
Sebagaimana kita pada umumnya, Milza juga memiliki rasa khawatir jika hewan mamalia galak itu tak hanya sekedar menggongong.
“Alhamdulillah tidak pernah digigit tapi anjingnya mendekat hingga beberapa jengkal aja. Jadi kalo dia menggonggong, tidak boleh lari karena kalau lari dia pasti akan mengejar dan menggigit,” kata Milza ketika berbincang dengan saya, awal November lalu.
Milza mengaku sangat ketakutan jika melalui jalan menuju mushalla tempatnya mengabdi menjadi muadzin 5 waktu shalat dan guru ngaji itu.
Apalagi jaraknya yang cukup jauh kurang lebih 7oo meter, membuat dirinya harus menyiapkan diri sebaik mungkin.
Cara agar gangguan tersebut tak berlangsung lama, Milza selalu membawa kayu atau tongkat dan berusaha tidak lari ketika jaraknya semakin dekat.
“Dan jujur saya sangat ketakutan sekali, tapi saya yakin karena sama-sama mahluk Allah, jadi saya serahkan semuanya kepada Allah,” imbuh pria kelahiran Langsa, Aceh ini.
Pilihan Mengabdi
Dakwah tidak melulu bersambut uluran tangan, justru kerapkali mendapatkan picingan mata dan tantangan tak ringan.
Apalagi, daerah yang menjadi titik pengabdiannya di kawasan minoritas muslim di pedalaman.
Demikianlah dialami Milza yang mengabdikan dirinya di daerah minoritas muslim tepatnya di Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.
Di saat kaum muda milenial seusianya menghabiskan waktu dengan berbagai "kesenangan" dengan hiruk pikuk aroma hedon, Milza malah memilih menepi ke sudut sudut negeri. Menebar asa membangun negeri, dengan cinta kasih menapaki jalan dakwah yang sunyi ini.
"Alhamdulillah tepat diumur 24 tahun di tahun 2020, Allah beri kami rezeki berupa amanah untuk berdakwah," kata.
Jebolan Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara ini, sempat menempu studi perguruan tinggi hingga semester lima.
Namun, gelora dakwahnya selalu memanggil dan akhirnya memutuskan turun ke gelanggang berdakwah dan pindah ke daerah minoritas.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kabupaten Dairi Dalam Angka 2020, secara demografis penganut agama, mayoritas penduduk Kabupaten Dairi beragama Kristen dengan prosentase 84,09% Protestan 72,80% - Katolik 11,29% dan Islam hanya 15,66%. Selebihnya Buddha 0,10%, Hindu 0,01% dan lainnya 0,14%
Hubungan antar penganut agama dan kepercayaan di Dairi berjalan baik. Milza sendiri tinggal mengabdi di salah satu desa tepatnya di desa Lae Sirambon yang terdiri dari 35 KK, 5 KK muslim keturunan dan 30 KK non Muslim.
Kehadiran Milza terutama dalam rangka memenuhi dahaga rohani masyarakat muslim minoritas di Sirambon dan sekitarnya.
Diharapkan dengan adanya penyuluhan keagamaan Islam secara berkesinambungan, warga muslim khususnya generasi mudanya tetap teguh imannya.
Kegiatan dakwah Milza diantaranya mengajari anak anak muslim di sekitar untuk belajar Al-Qur'an.
Dia juga datang ke rumah rumah dan menjadikan kediamannya yang sederhana milik salah seorang warga, menjadi tempat belajar mengaji.
Alhamdulillah, kegiatan belajar dan mengajar Al Qur'an disambut antusias. Anak anak muslim rutin mengikuti kegiatan tersebut yang juga dibekali dengan materi pengajaran tentang dasar dasar Islam.
Mirza terus bergerak. Dia menyadari betul pentingnya penanaman akidah Islam sejak dini khususnya bagi generasi muda muslim.
Ia juga akhirnya jemput bola dengan menyanggupi menjadi guru ngaji di mushalla yang jaraknya 700 meter tempat tinggalnya itu.
Di mushalla inilah kegiatan belajar mengajar Al Qur'an dilangsungkan. Pesertanya naik turun. Tak menetap. Wajar. Kendala jarak tempuh yang cukup jauh, itu salah satu musababnya.
"Terkadang hanya ada satu atau dua murid yang datang karena jarak rumah mereka yang jauh dari musholla," kata Milza.
Sedangkan, untuk jamaah shalat yang rutin ada 1 orangtua sebagai iman. Milza yang jadi muadzin dan makmumnya.
Saban waktu shalat, Milza harus tiba tepat lima waktu sebagai muadzin. Dia pun seringkali harus tergopoh-gopoh karena harus berjalan kaki dengan jarak tempuh lumayan memeras tenaga.
Selain jarak, Milza pun harus pintar pintar menjaga perangai apalagi dia berada di komunitas masyarakat minoritas muslim.
Tak jarang ia berjalan menuju mushalla hanya memakai pakaian biasa. Sementara, sarung dan baju shalatnya ditempatkan di tas.
"Karena sepanjang perjalanan saya melewati pemukiman non muslim. Ketika sudah tiba di musholla, saya baru mengenakan pakaian shalat demi menjaga agar dakwah ini diterima oleh mereka," kata Milza.
Dalam debutnya tersebut, Milza mengaku hanya ingin menunjukkan kepada saudara non muslim, bahwa betapa Islam itu mengajarkan kelembutan dan kedamaian.
“Selebihnya saya ingin membantu menyambung cita-cita mereka yang berada di daerah ini karena sedikit muslim di sini,” imbuhnya.
Masjid terdekat berjarak sekitar 2 kilo meter. Milza juga mendapatkan jadwal mengisi khutbah Jum'at. Namun, untuk beberapa masjid yang meminta dirinya untuk jadi khatib, terpaksa ditolak.
"Bukan tidak mau, tetapi saya tidak memiliki kendaraan untuk menuju masjid itu, bahkan angkot juga tidak ada," imbuhnya.
Di balik berbagai tantangan dan suka duka pengabdian sebagai dai, Milza merasakan terdapat keharuan tak terlukiskan.
Ada bersit harapan dan kegembiraan yang senantiasa menyembul dikala menyaksikan antusiame khususnya generasi muda muslim yang dibinanya.
Dalam perjalanan dakwahnya, Milza terkadang menemukan bianglala berupa kisah unik dijumpainya di sela tapakan demi tapakan langkah yang sedang ditempuhnya.
Keunikan itu seperti dialaminya sendiri pada saat didatangi wanita non muslim yang mengenakan jilbab.
Wanita itu, sebut saja namanya Clara Tampubolon, datang bersama neneknya yang muslim dan berhijab.
Clara sendiri beragama Nasrani, tetapi ia sangat ingin berjilbab, bahkan disuruh lepas jilbab dia menangis.
Akhirnya, dengan berat hati sang ibu yang juga nasrani mengizinkan Clara untuk berjilbab, dengan syarat ia tidak diajarkan ajaran Islam.
"Maka kami memohon doa agar dakwah kami sampai disetiap tempat daerah ini. Semoga Allah sampaikan hidayah itu kepada mereka semuanya," kata Milza seraya berdoa penuh harap.
Berdakwah di pedalaman bukan tanpa halangan, apalagi harus memutuskan menempuh studi di perguruan tinggi dan lulus dengan nilai membanggakan yang menjadi cita cita semua orangtua.
“Tentu banyak yang menentang keputusan saya, terkhusus orangtua saya, tapi setelah dijelaskan bahwa penting sekali menghadirkan cahaya Islam di daerah minoritas ini, akhirnya Alhamdulillah saya mendapat restu,” pungkas pria yang menargetkan menuntaskan masa lajangnya tahun ini.
