Kamis, 08 Juli 2010

Komputer, Nasibmu Dulu


PUSING kepala. Itulah yang saya alami kali pertama ketika bertemu komputer. Saya memang tak paham sama sekali apa itu komputer dan apa pula itu yang disebut virus.

Apakah virus ini sejenis kutu atau tungau yang masuk ke jaringan kabel-kebel komputer lalu merusak?. Bayangan itu yang ada di pikiran saya ketika.

Pertanyaan-pertanyan itu lama mengendap di kepala saya.

Penasaran sekali. Saat itu, di zaman ketika saya saat duduk bangku SD, SMP, dan SMA, komputer sudah ada. Tapi terbatas sekali dan hanya ada di kantor sekolah.

Apalagi, kondisi ini saya alami di pesantren. Jadi tidak salah juga kalau kalangan pesantren santer disebut sebagai kalangan yang gaptek.

Santri seperti saya, waktu itu, nggak boleh masuk kantor sembarangan. Kecuali sekedar masuk ngambil spidol atau penghapus untuk dipakai di kelas.

Sesekali juga pernah ada yang ”menyempatkan” diri masuk ke ruangan kantor guru ketika sepi sekedar untuk ”mengamankan” kue pisang molen yang kelihatannya memang tidak dihabiskan. Sayang kan. Mubazir.

Astagfirullah. Maaf ya, Pak Guru, jatahnya diembat.

Di perpustakaan sekolah waktu itu ada beberapa buku tentang komputer. Saat itu saya hanya menduga saja. Dari judulnya, buku-buku itu kayaknya buku tentang komputer. Judulnya macam-macam.

Yang saya ingat, ada tentang Pascal, Visual Basic, Database, ada juga yang berjudul Virus dengan gambar cover tetikus. Jenisnya tebal-tebal dan ditempatkan pada rak tersendiri.

Saya sama sekali tidak tahu apa maksud buku jenis kelas berat ini disimpan di perpustakaan sekolah kami, yang waktu itu jangankan komputer, makan enak aja susah. Nyambung, gak? Hehe.

Saya sendiri pernah mencoba membuka-buka sekilas. Asli, pahit banget. Tak ada yang saya mengerti.

Rasa penasaran saya pada komputer semakin kuat dan menyentak-nyentak. Rasa penasaran saya pun sempat terobati beberapa hari. Ceritanya, saat itu saya yang beranjak naik ke kelas 3 terpilih menjadi ketua OSIS.

Untuk menunjang kerja, maka pihak sekolah mengamanahkan 1 unit komputer kepada pengurus OSIS. Saya berharap, semoga keputusan alokasi ini bukan panas-panas tai ayam.

Merek yang tertera di CPU (central processor unit), seingat saya, adalah IBM, Prosesor pentium II dengan aplikasi software Windows 98.

Sebagai pengurus jelas kami sangat senang dapat jatah komputer. Saya pun langsung pegang sendiri kunci perpus di mana komputer berada. Komputer aman terkendali.

Namun, nahas benar nasib komputer lawas tersebut. Umurnya tak berlangsung lama. Hanya 2 hari.

Jelek sekali. Lambat pula. Kalau sudah lemot begitu, monitor tak jarang jadi korban. Dipukul-pukul, katanya biar loadingnya cepat. Ini tips seorang kawan, yang tak kalah gapteknya.

Tentu saja cara di luar naluri akal sehat manusia ini nggak ngefek. Dasar komputernya memang sudah begitu. Begitulah kalau emosi bercampur katrok. Klop.

Selama 2 hari itu saya hanya sempat menghafal cara menghidupkan dan mematikan, dan sedikit cara gonta-ganti tampilan desktop dan screensaver.

Selanjutnya, komputer yang punya nilai historis luar biasa bagi saya tersebut fix beralih menjadi ”pengangguran”. Dan, beberapa hari kemudian dikembalikan ke kantor sekolah. Rusak. Tak mau hidup.

Ketika duduk di bangku kuliah, baru saya betul-betul bisa berinteraksi, walaupun tidak secara intens, dengan teknologi karya anak-anak cerdas Amerika ini.

Memang, ada semacam kepuasan bisa mengetik sedikit-sedikit. Ada rasa bangga tak terkira bisa berlama-lama di depan komputer, meski hanya bisa close-open, minimaze, jendela word, exel, atau membuat marquee (tulisan gerak) dengan nama sendiri pada scransaver.

Barulah belakangan saya ketahui betul, bahwa komputer adalah dunia lain yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Saya mencoba mengerti. Mencoba mempelajari. Mencoba menggunakan. Dan saya pun mengenalnya sebagai sebuah senjata. Senjata sangat ampuh.

Saya sering membayangkan betapa dahsyatnya "pertarungan" dunia global saat ini. Sebuah pertarungan ideologi di dunia tanpa batas. Inilah saya kira pertempuran yang sarat dengan nilai-nilai.

Semua orang bebas mengakses. Bebas berteriak. Bebas menumpahkan apa saja. Bebas nilai. Bahkan bebas menumpas ”kepala” kita, ketika sedikit saja kita lengah.

Baiklah. Saya tidak mau berlama-lama dalam tulisan ini. Tentu saja. Saya khawatir, Anda yang membacanya jadi bosan. Tulisan ini sudah terlalu panjang.

Saya ingin menyimpulkan saja bahwa, komputer, yang variannya kini sudah berjejal tak terbatas, hanyalah lapisan terluar dari perkembangan teknologi.

Inilah yang saat ini disebut sebagai teknologi informasi; komputerisasi. Atau sederhananya, sebagai alat bertarung utama saat ini.

Mungkin kita sudah paham semua, perang bidang inilah yang saat ini sedang bekecamuk kuat. Tapi banyak yang tidak sadar. Bahkan banyak yang sudah terjebak dan terjerembab.

Bagaimana kita menyikapi ini?. Faktanya, kita sering hanya menjadi penyantap hidangan yang disediakan. Memang nampak gurih, lezat, lagi nikmat. Tapi ingat, ini dunia maya, bung.