Kutipan wawancara dengan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla, untuk Majalah Hidayatullah edisi April 2010. Wawancara berlangsung di kantor Freedom Institute yang saat itu beralamat di Jalan Proklamasi, Jakarta, dekat kantor majalah Tempo dan kantor MUI Pusat.
Saat itu saya bersama dengan senior, bung Surya Fachrizal (sekarang di kantor berita Turki, Anadolu Agency), yang sekaligus menugaskan saya untuk mentranskrip lengkap hasil wawancara di siang hari tersebut. Juga ada Muhammad Abdus Syakur, fotografer, dan kini menjabat sebagai redaktur di Hidayatullah.com
Transkrip wawancara di bawah ini adalah versi lengkap yang belum melalui proses editing di meja redaksi. Dimuat lengkap di sini sekedar mengarsipkan saja sebagai bahan bacaan semata. Saya menganggap ini bersejarah. Karena itu, saya abadikan di sini.
Berikut petikannya lengkapnya.
++++++++++
Pada pidato Anda di TIM, ada kesan pesimisme kegagalan sekularisasi di Indonesia?
Saya hanya menekankan telaah sosiolog dan ilmuan politik terakhir, bahwa memang secara faktual terjadi kebangkitan agama-agama. Ramalan yang dulu dikemukakan para sosiolog modern bahwa begitu modernisasi berlangsung terus maka agama akan tersingkir, ternyata itu tidak terjadi. Sekarang terjadi kebangkitan agama.
Cuma yang ingin saya tekankan adalah, bahwa kebangkitan agama itu bentuknya banyak. Selama ini kebangkitan agama hanya diidentikkan dengan kebangkitan agama yang konservatif. Menurut saya itu tidak benar. Kebangkitan agama bentuknya antara lain, selain kebangkitan dalam bentuk konservatif. Dan itu terjadi di Islam dan Protestan.
Gerakan yang disebut Pentecostalism adalah bentuk kebangkitan Protestan konservatif yang pertama kali dimulai di Amerika Latin dan sekarang terjadi di Amerika Serikat, itu sama dengan kelompok-kelompok konservatif Islam yang ada di sini, ya sama seperti Anda lah.
Sebagaimana orang-orang konservatif Islam benci dengan Kristen, orang Pentecosta juga sama. Di Amerika, orang-orang yang Anti Islam, ya kebanyakan mereka-mereka itu, yang menduduh Obama sebagai orang yang menyelundup ke Amerika untuk mendukung Osama. Di sini Obama ditolak dengan orang-orang yang salah mindsetnya. Menurut saya, ini lucu sekali.
Nah, selain itu, ada juga bentuk kebangkitan agama yang lain yang saya katakan sebagai kebangkitan dalam bentuk melakukan interpretasi kembali ajaran-ajaran Islam secara lebih kontekstual. Itu juga, bagi saya, bagian dari bentuk kesadaran dan kebangkitan agama.
Itu jenis kebangkitan agama yang Anda maksud?
Jadi, kalangan Islam yang reformis, liberal, yang progresif, transformatif, dan seterusnya, bagi saya, itu juga bagian dari kebangkitan agama. Mereka mencoba kembali menafsirkan ajaran Islam dengan konteks yang berubah.
Saya ingin menegaskan bahwa, iya, ada kebangkitan agama. Tapi kebangkitan agama itu bentuknya banyak. Ada yang tradisional konservatif, ada yang bentuknya liberal progresif, ada pula yang bentuknya mistisisme atau tasawuf.
Di laman website JIL, Anda juga menulis bahwa ide libaralisme telah gagal?
Saya tidak tahu di mana saya mengatakan ide ini gagal, Saya tidak ingat. Tapi menurut saya, sebetulnya umumnya masyarakat Islam di Indonesia menerima gagasan pluralisme dalam praktek. Cuma gara-gara fatwa MUI kemarin, orang-orang mengalami kebingungan. Kan tidak pernah terjadi percampuradukan agama dalam praktik di Indonesia, bahkan di dunia sekalipun tidak ada. Tolong berikan contoh satu ada gerakan pluralisme yang intinya adalah mencampuradukkan semua agama.
MUI memfatwa haram gerakan pluralisme. Kenapa Anda masih mengusungnya?
Menurut saya, statemen yang menyatakan bahwa agama semua sama adalah benar. Semua agama beda, juga benar. Tergantung dari cara bagaimana melihatnya. Dalam beberapa aspek, semua agama sama. Semua agama memerintahkan berbuat baik, melarang pembunuhan, penghinaan, pencurian. Gak ada agama yang menolak nilai-nilai dasar ini. Pada level etika semacam itu, semua agama sama.
Dalam tingkat tertentu, agama juga beda. Dalam menafsirkan tentang ketuhanan mereka beda. Di Kristen ada Triniti, di Islam ada Monotheisme. Tapi intinya semua agama percaya pada tuhan, cuma cara menafsirkan tuhannya yang beda-beda. Sama dengan mengatakan begini, Indonesia itu negara yang religius, ya benar. Tapi dikatakan negara yang tidak religius juga benar. Religius dari satu aspek dan tidak religius dari satu aspek.
Jadi mengatakan bahwa menyatakan semua agama itu benar adalah melawan aqidah Isalm, menurut saya, itu tidak masuk akal.
Pasca Gus Dur, roman pesimisme pluralisme di Indonesia mulai tampak, menurut Anda?
Saya sih tidak pesimis. Masyarakat Indonesia sebetulnya dalam prakteknya adalah pluralis. Dalam prakteknya, Pak Din Syamsuddin sendiri sebagai Sekjen MUI, mengucapkan ucapan selamat natal kepada orang-orang Kristen, entah itu dengan hanya melalui SMS. Saya ketemu dengan orang Kristen mendapatkan ucapan selamat dari Pak Din. Kyai Muzadi juga mengucapkan itu, kyai-kyai NU juga banyak tidak keberatan dialog dengan orang Kristen. Di dalam prakteknya, sebetulnya, masyarakat Indonesia menerima gagasan pluralisme.
Anda ditabalkan sebagai ikon baru gerakan JIL. Apakah ini terkait pencalonan Anda?
Begini, harus dibedakan saya sebagai seorang pemikir muslim liberal dengan saya sebagai anggota NU. Beda, karena saya oang NU dan saya mengerti tradisi NU. Menurut saya, tradisi NU itu beberapa mengandung elemen-elemen dan unsur yang cukup progresif dan liberal.
Ambil contohlah, keputusan NU untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara. Jadi menurut saya, beberapa pemikiran NU, tidak semuanya, yang saya tahu sangat progresif sekali. Tapi tentu, ketika misalnya saya masuk kembali ke NU, saya sadar diri tidak mungkin membawa NU terlalu jauh kepada pemikiran yang liberal. Saya tahu tradisi saya.
Kritik saya di dalam Jaringan Islam Liberal, umumnya saya tujukan kepada kalangan islam radikal, bukan kepada masyarakat NU. Saya tau beberapa kyai tidak setuju dengan gagasan saya, tapi yang setuju juga ada. Bahkan saya pernah diadili di Sidoarjo, ya tidak apa-apa. Gusdur juga pernah diadili. Perbedaan di dalam NU, saya kira, membuat kehidupan di dalam NU menjadi dinamis.
Apakah Anda pernah berhubungan dengan peneliti yang ada di INSISTS?
Kalau dengan Adian (Husaini), bertemu dalam berbagai forum sering sekali. Saya sering bertemu dengan dia meskipun berseberangan pendapat dengan dia dalam banyak hal. Tapi lima tahun terakhir sudah tidak pernah lagi karena saya sekolah.
Pernah ada "clash" yang agak keras dengan para pengcounter pemikiran Anda?
Ya perbedaan pendapat antara saya dengan dia keras sekali. Tapi biasa saja, saya tidak melihat itu sebagai sesuatu yang aneh.
Jika terpilih menjadi Ketua NU, apa yang akan dilakukan?
Tujuan saya sih tidak muluk-muluk masuk ke tubuh NU kembali. Saya dari sana dulunya dan saya bagian dari NU. Tujuan saya sederhana saja, saya ingin menjadikan NU sebagai rumah yang menyambut dengan lapang dada dan terbuka kepada semua spketrum pemikiran yang berkembang dalam masyarakat NU, dikalangan anak-anak muda NU, dikalangan sepuh, semuanya diterima.
Kritik saya kepada NU di masa Kyai Muzadi, adalah NU seperti memusuhi sejumlah anak-anak muda NU yang mereka anggap berlawanan. NU sendiri dalam banyak hal liberal kok. Bagaimana bisa kemudian memusuhi pemikiran yang liberal. Buat saya, NU dari dulu mengenal keberagaman gagasan dan pemikiran sejak zaman Gus Dur dan sebelumnya.
Jika terpilih, apakah ada agenda untuk memuluskan langkah agenda liberalisasi di Indonesia?
Saya tidak ingin membawa NU menjadi terlalu liberal atau menjadi terlalu konservatif. Saya tidak mau membawa NU terlalu jauh ke kiri atau terlalu jauh ke kanan. Prinsipnya adalah saya ingin membawa kembali NU menjadi organisasi sosial keagaman yang salah satu potensinya adalah etos keulamaan. Yaitu kecintaan pada ilmu dan kecintaan kepada perbedaan pendapat dengan etika yang baik. Etika semacam itu, bagi saya, harus dimunculkan kembali di masa mendatang.
NU harus menampung semuanya. Dan bagi saya, NU akan kaya secara pemikiran kalau bisa menampung semua. Karena buat saya, gagasan itu muncul ketika ada perbedaan-perbedaan yang tajam dan menimbulkan gagasan yang lebib baru.
Anda menafikkan Al-Qur’an dalam gerakan liberalisme Anda?
Kita tidak bisa mengabaikan wahyu. Kecuali Anda telah meninggalkan Islam sama sekali, itu lain soal. Menurut saya, selama orang itu berada dalam lingkup Islam, tidak mungkin dia meninggalkan wahyu, tidak mungkin, dan tidak ada contohnya. Kita masih memakai Al-Qur'an sebagai dalil.
Apakah Anda yakin dengan apa yang diperjuangkan ini akan menjadi bekal terbaik dihadapan Allah kelak?
Saya yakin sekali. Gagasan saya yang saya kembangkan selama ini adalah gagasan yang saya anggap mencerminkan semangat dasar Islam. Saya yakin kebenaran itu. Orang lain boleh beda pendapat. Saya meyakini kebenaran apa yang selama ini saya perjuangkan. Saya yakin betul bahwa inilah cara saya untuk mencintai agama saya.
Saya tidak merasa ragu sedikit pun, bahwa ini sesat, ini tidak sesuai, sama sekali tidak ada keraguan. Laa Raiba Fiih. Ditentang, fine, berbeda pendapat biasa.
Kalaupun selama ini saya melakukan kritik terhadap pendapat beberapa orang, bagi saya, itulah cara saya untuk membuat agama saya relevan dengan keadaan yang ada sekarang.
Bukan berarti jika saya mengatakan bahwa Islam harus ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman, tidak berarti tidak ada sesuatu yang tetap. Tetap saja ada yang tetap dan konstan dalam Islam. Tetapi yang berubah juga ada.
Kaidah saya adalah, dan ini saya yakini dari dulu, bahwa saya tidak akan melakukan penafsiran kembali sejauh menyangkut ajaran Islam yang bersifat ibadah murni, seperti sholat, puasa, dan haji. Tiga ini yang saya anggap ibadah murni.
Anda percaya Allah Ta’ala ?
Saya berfikir liberal, tapi tetap menganut suatu batas. Nggak mungkin liberal itu tanpa batas. Di mana pun tidak ada liberalisme tanpa batas. Dan batasnya itu, dalam prinsip saya, adalah antara ibadah mahda dan ibadah ghairu mahda. Yang mahda, saya sami'na wa atho'na, saya tidak akan mengutak-atiknya. Saya tidak pernah mengutak atik tentang keesaan Tuhan.
Bagi saya, Tauhid adalah prinsip dasar Islam yang tidak perlu diutak-atik. Saya tidak pernah mempercayai tuhan lebih dari satu. Sedangkan yang tidak mahda, menurut saya, terbuka untuk diberi penafsiran baru yang kontekstual.
