BAGI warga Hidayatullah, sudah tidak asing lagi dengan 6 jatidiri Hidayatullah sebagaimana hasil Musyawarah Nasional (Munas) III Hidayatullah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 2010 lalu.
Keenam Jatidiri Hidayatullah tersebut adalah: (1) Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, (2) Ahlus Sunnah wal Jamaah, (3) Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, (4) Imamah dan Jamaah, (5) Jama’atun minal muslimin, dan ke (6) Wasathiyah.
Selain jatidiri, kampus-kamus Hidayatullah juga memiliki ciri khasnya tersendiri. Ciri khas tersebut merupakan warisan dari para pendiri atau senior-senior Hidayatullah.
Diantara kekhasan yang amat melekat dalam benak tersebut adalah menyebarkan salam (afsussalam) dan memberi makan (ath'imuthoa'am).
Apabila kedua hal tersebut di atas tak nampak di kampus yang menahbiskan diri sebagai bagian dari jaringan Hidayatullah, maka bisa dipastikan itu bukan kampus atau Pesantren Hidayatullah. Hanya mencatut nama Hidayatullah.
Menyebarkan Salam
Apabila ada kampus Hidayatullah yang di dalamnya jarang terdengar suara salam, Assalamu 'Alaikum, saya bisa pastikan Anda salah masuk. Anda tidak sedang berada di kampus Pesantren Hidayatullah.
Saking tegasnya peraturan soal ini, ketika saya SD dulu di Kampus Hidayatullah Bontang, kami para santri diwajibkan memberi salam ketika bertemu siapapun.
Bahkan kalau bisa saling mendahului. Suasana kampus seolah tak ada suara lain selain salam. Di jalan jalan. Di lapangan. Di sekolah. Salam berbalas-balasan.
Kebiasan tersebut rupanya melekat juga sampai kita pulang kampung. Spontan saja. Siapapun yang ditemui di jalan selalu disapa dengan salam tanpa pandang bulu. Dengan ucapan salam ini, rasanya indah sekali hidup ini.
Karena itu, menurutku, kekhasan ini harus dijaga. Jangan sampai ada santri yang tak terbiasa salam ketika berjumpa dengan kawannya, apalagi dengan guru atau orang yang lebih tua darinya.
Agak mengkhawatirkan juga rasanya. Karena dalam beberapa kali interaksi dengan sejumlah kampus Hidayatullah, rupanya kebiasaan ini rupanya agak kurang hidup. Atau mungkin ini hanya perasaan saya saja.
Ketika berjumpa dengan sekelompok santri, saya beberapa kali sengaja tak memulai salam. Berharap mereka memulai duluan.
Tapi ternyata, si santri tak mengucap salam sama sekali sampai kemudian saya memulai mengucapkan salam.
Barulah setelah saya salam mereka kaget lalu gelagapan menjawab. Kebetulan saya salam setelah mereka berlalu beberapa centi dari titik perjumpaan.
Karena itu, saya kira, penting sekali setiap pengasuh di asrama, harus mensosialisasikan budaya salam ini kepada segenap santri.
Salam ini adalah munajat untuk keselamatan, kerahmatan dan keberkahan dari Allah SWT. Tidak boleh dianggap enteng pula ini persoalan. Kampus yang sepi dari bunyi-bunyian keberkahan ini, sama saja kampus mati.
Saya berani katakan, bahwa kampus atau pondok-pondok yang mengatribusi diri sebagai bagian dari jaringan Hidayatullah, namun di lingkungannya jarang terlontar salam di setiap titik titik perjumpaaan. Maka, sesungguhnya ini bukan kampus Hidyatullah.
Sekali lagi, bukan kampus Hidayatullah!. Dia hanya mengaku-aku kampus Hidayatullah.
Maka, menutut saya, tugas inti dari Pandu Hidayatullah sebagai badan perkaderan pendidikan tingkat dasar dan menengah, adalah membiasakan santri menyebarkan salam.
Jikalau ada kampus Hidayatullah yang santri-santrinya tak gemar mengucapkan salam, berarti pendidikan di sana gagal.
Kalau ada Pondok Pesantren Hidayatullah, namun santri-santrinya berat lisannya melafazkan salam kepada setiap orang yang dijumpai, maka jangan-jangan pondok ini tak paham kultur manhaji Hidayatullah.
Ucapan "Assalamu 'Alaikum" bagi sebagian orang muslim mungkin tampak sepele, tapi terbukti ia telah menjiwai perlangkahan dakwah Hidayatullah untuk tegaknya peradaban setapak demi setapak.
Jangan dianggap kecil, sebab inilah warna kita. Saya katakan, ini serius sekali.
Memberi Makan
Kekhasan Hidayatullah lainnya adalah kebiasaan memberi makan. Tamu tamu yang datang dijamu dengan baik, setidaknya selama 3 hari sebagaimana anjuran nabi kita. Khususnya tamu-tamu yang datang dari daerah lain.
Tak usah menanyakan apa jabatannya, seniorkah, juniorkah, pimpinan cabangkah, semua diperlakukan istimewa. Hal inilah yang selalu saya yakini sebagai pembawa berkah.
Namun, problemnya, ada juga tamu yang datang terkadang tidak melaporkan diri tentang siapa dirinya dan apa tujuannya.
Tiba-tiba saja nyelonong, lantas menginap berhari hari di guest house (GH). Mentang-mentang ada kenalan orang dalam. Biasanya tamu sejenis ini tak akan mendapatkan pelayanan memadai karena memang tidak teridentifikasi identitasnya.
Di sisi lain, setiap kampus-kampus Hidayatullah memang perlu menyiapkan buku tamu khusus untuk mendata siapa saja tamu yang datang, namanya, dari mana, tujuannya apa, menetap berapa hari, dan data-data pendukung lainnya.
Selain untuk keperluan pelayanan, data ini juga untuk memastikan bahwa yang datang ini jelas identitasnya sehingga bisa lebih mudah membantu menuntaskan keperluannya.
Apakah salah mendata setiap tamu? Sama sekali tidak. Justru, setiap tamu harus melapor dan tidak ada yang salah dengan ketentuan semacam itu. Bagaimana mungkin menerima seseorang bahkan menjamunya dengan seksama kalau Anda sendiri tidak mengenalnya.
Dan, saya yakin, tamu yang baik pasti selalu senang didata walaupun sebenarnya dia orang yang mungkin sudah terkenal atau pembesar. Di samping itu, umumnya penanggjung jawab GH tidak selalu kenal dengan setiap tamu yang datang.
Kembali ke topik. Jadi memang, tradisi memberi makan di lingkungan kampus Hidayatullah ini sudah turun temurun.
Saya pernah ke Kampus Hidayatullah Nunukan, Kaltim. Padahal, waktu itu saya belum melapor, tapi kebetulan sudah kenal sama pimpinannya, Ustadz Khirson Sulaiman.
Selesai shalat dzuhur, saya dipanggil ke penginapan khusus tamu. Belum sempat melonggarkan ikat pinggang, saya langsung dihujani berondongan beragam jenis penganan. Ada es buah. Kolak. Gorengan. Pokoknya macam-macam.
Ternyata, itu baru makanan pembuka. Tak lama, datanglah santri membawa sebongkah ikan bakar berukuran jumbo, ikan goreng dan ikan kuah kuning. Sayur mayur. Ada juga sambel cabe merah dicocol bawang.
Tak ketinggalan sebakul nasi pulen panas yang beraroma semerbak. Sementara, saya hanya sendirian. Pak Khirson sejak di ronde pembuka tadi sudah lebih dulu minta izin ada acara pengajian di luar.
Santri yang saya minta untuk menemani pun, mengaku sudah kenyang dan, katanya, sudah ada jatah sendiri di dapur.
Saya akhirnya menyerah. Seorang diri memandangi menu-menu jumbo tersebut. Tak mungkin dilicintandas seorang diri. "Untungnya", saya hanya sehari di kota ini.
Masih banyak cerita menarik soal jamuan di kampus kampus Hidayatullah yang pernah saya rasakan. Tak ada selesainya. Ada yang menu yang sangat mewah yang mungkin sesuai dengan kapasitas budget.
Ada juga yang ala kadarnya, tapi penyajian yang penuh dengan ketulusan dan cinta. Kampus Hidayatullah dimanapun berada sudah erat sekali dengan tradisi perjamuan ini.
Dan, sebenarnya, mengapa pendiri Hidayatullah, Abdullah Said Rahimahullah, sangat menekankan sekali kedua hal tersebut di atas, adalah karena berangkat dari salah satu seruan dari Nabi kita, Rasulullah Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam.
Salah satu hadis yang dijadikan spirit perjuangan Hidayatullah oleh Ustadz Abdullah Said Rahimahullah, sebagimana yang dijelaskan oleh Ustaz Hasyim HS, adalah sabda Rasulullah yang bersumber dari Abdullah bin Salam yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad:
أيها الناس ، أفشوا السلام ، وصلوا الأرحام ، وأطعموا الطعام ، وصلوا بالليل والناس نيام ، تدخلوا الجنة بسلام.
“Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturrahim, shalatlah diwaktu malam sedangkan manusia sedang tidur, kemudian masuklah Surga dengan selamat”
Nah, dalam hadits di atas, ada dua yang belum kita bahas yaitu menyambung silaturrahim (washilul arham) dan shalat tahajjud (washollu billail).
Kesemuanya adalah satu kesatuan, sebagai -meminjam istilah Kusnadi Abu Ulya,- living hadith, yang menjadi spirit pergerakan Hidayatullah. Semoga istiqomah.
