JANGANKAN Capres atau Cawapres, orang gila pun datang ke Hidayatullah diterima. Kisah soal ini banyak diceritakan dalam buku "Mencetak Kader" karya almarhum Ust Mansur Salbu.
Ada kisah, misalnya, perempuan datang yang menitip bayinya karena tak mampu dibiayai, setelah itu sang ibu hilang entah keman pergi.
Ada pula orang datang membawa anak yang diakui sebagai kerabatnya, katanya mau jadi santri. Tapi ternyata kurang waras alias gila. Anak tersebut tetap diterima dan dijaga Pesantren Hidayatullah.
Itulah kekhasan Pesantren Hidayatullah. Budaya itu terus bertahan hingga kini. Mau preman atau bromocorah, semua dirangkul oleh Hidayatullah. Dai dainya pun selalu ramah dan penuh persahabatan. Sehingga dapat diterima di manapun.
Pendiri Hidayatullah, almarhum Ust Abdullah Said, dalam ceramahnya sering mengingatkan; Islam ini bukan untuk orang seorang saja, Islam bukan untuk kita saja, bukan pula untuk sanak familii kita saja. Tapi Islam ini untuk semua. Islam Kaffatan linnas rahmatan lil alamiin.
Inilah yang menjadi poin betapa Hidayatullah sangat memuliakan tamu siapapun yang datang. Pada Silatnas Hidayatullah bulan November tahun lalu, Capres Prabowo Subianto datang. Dijamu dan disambut hangat. Pak Jokowi-KH Maruf Amin (KMA) juga diundang, tapi saat itu belum bisa hadir.
Barulah hari ini, Kamis (21/3/2019), KH Ma'ruf Amin selaku Cawapres Pak Jokowi, berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak bertepatan dengan sejumlah agenda kunjungan beliau ke Kalimantan Timur.
Hari-hari memasuki titik finish pesta demokrasi khususnya Pilpres 2019 memang terlalu bergairah. Sehingga hal sepele apapun bisa menjadi hangat. Seperti kunjungan KMA ke Pesantren Hidayatullah. Banyak kader yang khawatir kunjungan itu ditafsirkan macam-macam.
Hidayatullah bukan partai politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Sebagai ormas, independensi Hidayatullah jelas dan tegas.
Di waktu yang sama, kader-kader Hidayatullah adalah orang-orang yang tercerahkan secara politik dan tunduk pada mekanisme organisasi dalam masalah politik.
Dan, menariknya, menyongsong Pilpres dan Pileg, Hidayatullah menyerukan kepada kader dan khalayak luas untuk menggelorakan suatu gerakan yang disebut sebagai "politik silaturrahim". Ini adalah politik adiluhung yang bermartabat dan berkualitas tinggi.
Dari sana dapat dipahami, bahwa, Hidayatullah sangat menyadari pentingnya gerakan pencerahan dan simpul erat persaudaraan untuk membawa bangsa ini menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Hidayatullah amat menyadari bahwasanya Pilpres dan Pileg adalah gempita lima tahunan, sehingga tak harus membuat kita saling maki, membenci, apalagi saling sikut sana sini. Politik silaturrahim, secara filosofis, ingin menepikan tabiat-tabiat tak elok tersebut.
Hidayatullah, dengan demikian, selalu berusaha menjadikan semua tempat dan kesempatan sebagai ladang dakwah dan pendidikan umat. Sebab kedua hal itulah yang menjadi arus utama gerakan ini. Dakwah memanusiakan manusia agar mengenal Rabb dan tarbiyah untuk mengeluarkan manusia dari kubangan kejahilan.
Akhir kalam. Lupakan dulu soal nomor. Hindari saling jontor. Sebab, boleh jadi yang kita anggap generator ternyata adalah tumor. Karena jangan sampai sibuk jadi provokator, akhirnya di hadapan Allah Ta'ala kita tak punya pamor. Ketika amal dihisab, kosong belaka.
Dari hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi]
THE END
