Bapak Bapak Andi Iman Loebis sekaku wakil keluarga pewakaf komplek Masjid Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayaullah, hadir dalam peresmian penggunaan perdana komplek tersebut, Jum'at, 3 Mei 2019.
Usai mengucapkan salam, pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah, beliau berdiri lama. Tak langsung memulai, atau tepatnya, tak mampu segera memulai. Beliau merunduk, tak kuasa menahan derai air mata.
Sepanjang penyampainnya, beliau juga menitikkan air mata haru. Begini beberapa kutipan yang sempat saya catat dari alat perekam.
++++++
++++++
SAUDARA-saudaraku sekalian. Di awal tahun 1950-an, orangtua saya membeli rumah ini. Rumah orang Belanda. Tapi tidak tahu kenapa, Allah memberikan kepada ayah membeli rumah ini. Dan, untuk itu, beliau terpaksa mengambil kredit. Karena tidak bisa membeli secara kontan.
Di malam pertama ibu dan ayah menempati rumah ini, ayah saya mengatakan, bahwa rumah ini akan dikembalikan kepada Allah. Ibu saya kaget. Ibu saya mengatakan, “Ayah, kita baru satu hari di sini, utang belum lunas, kok ayah berkata begitu”.
Ayah saya mengatakan, kalau rejeki kita bertambah, insya Allah, ini akan kita kembalikan kepada Allah SWT. Dalam perjalanan kehidupan ayah saya, tidak tercapai beliau untuk mengembalikan rumah ini kepada Allah, (karena) ada persoalan-persoalan baik secara politis maupun secara kekeluargaan.
Kira kira sepuluh hari sebelum beliau meninggal, beliau sudah terkena serangan jantung. Tetapi beliau tidak mengakui.
Saat saya baru berumur 15 tahun. Beliau bediri, ibu dan saya duduk di lantai. Ibu saya mengatakan kepada almarhum ayah saya, “Ayah, bagaimana dengan rumah nomor dua puluh”. Karena dulu komplek ini nomor 20, bukan 14. Nggak tau kenapa, ayah saya mengatakan kepada ibu, “Mama, kalau saya tidak ada, ada Andi yang nerusin”.
Saya, terus terang, bingung, apa maksud ayah saya karena usia saya baru 15 tahun. Saya tidak mengerti. Sepuluh hari kemudian beliau meninggal.
Dalam perjalanan sesudah itu, rumah ini sempat kami sewakan kepada instansi pemerintah. Disewa pakai beberapa tahun dan semuanya hasil sewa rumah ini akhirnya terwujudlah masjid (Ummul Quro’) yang ada di (Pesantren Hidayatullah) Cilodong. Tidak satu sen pun kami sekeluarga mengambil hasil sewa rumah ini. Seluruhnya kami wakafkan.
Dalam perjalanan hidup saya, tahun 1987, saya, Alhamdulillah, naik haji dan ketemu dengan seorang yang menjadi sahabat hidup saya. Beliau ini banyak membimbing saya dalam kehidupan beragama. Tidak lain, dia adalah saudara saya, Abdul Mannan, yang datang dari "langit".
Saya bersyukur kepada Allah bahwa kami dapat bersahabat dan bersaudara. Persaudaraan ini melebar menjadi apa ada seperti sekarang.
Saudaraku _Rahimakumullah_, begitu kakak-kakak dan adik saya ikhlas melepaskan rumah 11 dan rumah 14 menjadi wakaf untuk Hidayatullah, detik berikutnya Allah membukakan pintu rejeki dengan cara-Nya sendiri.
Sebelumnya sudah berkali kali Hidayatullah membawa proposal untuk membangun masjid di sini dan sebagainya. Dua, tiga kali, tidak berhasil. Tapi, begitu ini kita lepaskan untuk Hidayatullah, Allah membukakan pintu rekekinya. Dibangunlah Cipinang 11 dan 14 seperti yang ada sekarang ini.
Tadi ustadz Jamaluddin Nur mengatakan, saya dan keluarga memberikan rumah ini. Saya koreksi, saya tidak pernah memiliki. Ini hanya titipan (Allah) yang dari kami dititipkan, kami serahkan kembali ke Hidayatullah. Karena ini adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhirat.
Hidayatullah bisa memainkan peran dalam mengarahkan Indonesia menjadi lebih baik. Perjuangan masih jauh. Tapi kalau tidak salah, dalam Al Quran surah Al Anfal ayat 37 bahwa Allah pisahkan ruh yang buruk dengan ruh yang baik.
Mudah mudahan di bulan Ramadhan (nanti), seperti bulan bulan Ramadhan lain dalam kehidupan kita, (biasanya) banyak sekali kejadian yang aneh-aneh. Bulan pembersihan. Dipisahkan yang buruk dari yang baik. Diturunkan mukjizat yang tidak kita disangka sangka.
(Bapak Bapak Andi Iman Loebis menutup sambutannya dengan menangis haru)
Pada hari ini, ayah, cita cita ayah, Insya Allah, tercapai. Semoga amal ayah dan mami mensinari kuburnya, mengampuni dosa dosa, memberikan tempat yang sebaik baiknya.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian saya. Karena segala yang betul hanya dari Allah dan Rasul-Nya. Yang salah, dari kami pribadi. Hidayatullah, jagalah aset ini. Kembangkan aset ini, hasilnya untuk kita selama-lamanya.


