Kamis, 10 Januari 2019

Gerbang Industri Visual Grafis

HARI HARI ini saya menemukan banyak website musiman. Hanya update jika perlu. Sayang sekali. 

Padahal beberapa diantaranya domainnya cakep dan berpotensi memiliki valuasi tinggi layaknya Tokopedia atau Gojek. Sayangnya tidak dikelola sungguh-sungguh. Mestinya dilakukan reformulasi, modifikasi dan eksekusi. 

Bagaimana caranya? 

Pertama-tama tentukan goal. Apa tujuan website yang lu buat itu? Media publikasi semata atau ada hal lain yang ingin dilakukan melaluinya. Atau sekedar menyalurkan hobi. Berternak domain. Tapi bertahun-tahun tak menghasilkan apa-apa.

Karena itu, lu harus menentukan tujuan secara spesifik. Selama goalnya tidak benar-benar jelas dan tegas, maka selama itu pula web lu hanya begitu begitu saja.

Betapa ruginya lu jika hanya membayar biaya rutin domain dan hosting tahunan. 

Dan tololnya, itu anda sudah lakukan bertahun tahun. Waktu yang tidak pendek. Waktu sepanjang itu bisa menjadikan banyak situs menghasilkan duit triliunan rupiah.

Gua yakin, lu bisa ngelakuin perubahan. Lu bisa membangun lagi situs lu menjadi raksasa. 

Tugas lu sekarang, selain menentukan goal, lu harus merekrut tim yang handal. Tak perlu banyak, cukup 2 atau 3 orang. Fokus di situ.

Jadi pesan gua. Lu fokus, bangun tim lu, dan pastikan goal lu. Lu mau ngapain sih dengan situs lu? Itu yang harus lu jawab.

Gue pikir, era situs komunitas atau web forum diskusi sudah selesai. Hal itu misalnya dibutkikan dengan redupnya nama besar Kaskus yang kini pelan-pelan sedang menyiapkan batu nisan kematiannya.

Kaskus terlambat membaca zaman. Akhirnya ia dilampaui Kompasiana. Dan, sedihnya, Kompasiana pun sebetulnya juga sedang menghitung hari mangkatnya jika tak melakukan terobosan dan melahirkan inovasi baru. 

Kompasiana pelan-pelan telah dieliminasi dengan raungan media sosial yang tanpa hambatan. Semua bebas berkicau. Tak ada lagi sekat.

Kini eranya visual grafis. Orang-orang sedang menuju gerbang baru indsutri digital yang mematikan siapapun yang tak punya energi dan inovasi. Dulu orang-orang hiruk pikuk di milis dan blogging. Kedatangan media sosial akhirnya mematikannya. 

Yahoo Group mati. Multiply tewas. Friendster terbacok berdarah-darah. Di tengah jalan. Di Indonesia, Path meregang nyawa dibawah korporasi Bakrie Telecom. Tak ada yang bisa menolong. Tewas, sangat tragis.

Kini tersisa Detik.com yang masih merajai industri informasi dalam negeri. Tak usah bicara aplikasi perpesanan instan. Semua dari luar. WhatsApp. Line. Telegram. Dll. Selebihnya kita hanya pengguna. Bahkan server mereka pun tak di sini. Mungkin.

Selamat datang di gerbang kehidupan baru industri visual grafis. Sekarang eranya video content. Blog sudah kalah keren dengan Vlog. 

Youtube kini menjadi raja belantara maya. Pelan-pelan artikel tak lagi menarik, apalagi panjang dan rumit.

Lantas, sekarang lu mau ngapain? Sudahlah!