Kamis, 13 Desember 2018

Terimakasih Hidayatullah

Di usianya yang ke-45 tahun, Hidayatullah terus berkhidmat untuk umat. Pengabdian Hidayatullah sungguh luar biasa. Saya adalah salah satu dari ratusan ribu atau mungkin sudah jutaan orang yang telah merasakan khidmat Hidayatullah.

Saya hanyalah orang dusun yang tak berpunya. Tinggal di desa yang jauh dari akses umum yang memadai. Bahkan sekolah pun nyaris berhenti karena keterbatasan biaya. Orangtua hanya petani dengan penghasilan tak menentu. Sementaar ibu telah wafat semenjak saya belum menduduki bangku sekolah karena sakit.

Secara ekonomi, keluarga kami tak terlalu berkecukupan. Bapak saya seorang petani, pun ibu. Kehidupan kami amat terbatas. Kendati terbatas, Alhamdulillah ayahanda kami masih bisa memenuhi kebuuthan makan kami. Masih ada rumah sebagai tempat bermukim. Alam di desa memang amat melayani manusia.

Saya sekolah sejak kelas 1 hingga kelas 5 SD di kampung. Selama itu saya hanya menggunakan celana bekas kakak saya yang sudah meninggal. Sebuah celana pendek buluk warna merah. Resleting sudah usang. Bagian belakangnya sudah mulai lepuh.

Hingga saya naik kelas 5, celana itu masih rutin saya kenakan. Sampai pada satu hari, bagian belakang celana tersebut robek. Awalnya hanya goresan kecil, namun lama lama kian menganga. Pada akhirnya betul betul parah hingga saya harus selalu menutup bagian belakang dengan tangan sambil mengurai baju keluar. Makin menyiksa, karena resleting pun sudah lost. Waktu itu belum kenal sempak.

Meski dalam kondisi demikian, celana tersebut harus tetap digunakan. Berusaha maksimal saya sembunyikan agar tak diketahui orang lain terutama kawan kawan sekelas. Tak juga saya ceritakan ke bapak, karena mungkin dia sudah tahu.

Jangankan celana baru, dorongan dari luar terutama bapak untuk sekolah pun saya rasakan sangat kurang. Bapak mungkin sangat memahami kondisinya, tak mampu membelikan perlengkapan sekolah bahkan sekedar celana untuk menggantikan yang sudah rapuh itu.

Beliau pekerja keras luar biasa. Bahkan saking kerasnya, saya yang selalu ikut beliau bermalam berjaga di kebun, selalu terlambat ke sekolah. Malamnya di kebun, esoknya pulang ke rumah untuk selanjutnya ke sekolah. Jika sudah bekerja, beliau bisa bertahan gerak sedari pagi hingga matahari tegak lurus menuding kepala.

Barangkali karena kondisi itu, saya dimasukkan ke yayasan panti asuhan di Bontang yang seriring waktu barulah saya ketahui jika panti ini adalah lembaga penyantunan yatim dan dhuafa yang dimiliki oleh Hidayatullah.

Mohon maaf jika tulisan ini agak sedikit emosional dan amat personal. Saya tak punya cukup kosa kota atau hal lain yang bisa diberikan secara material atau menggambarkan betapa besarnya rasa syukur telah diberdayakan oleh Hidayatullah. Alhamdulillah.

Hidayatullah telah menyekolahkan saya dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan bahkan hingga lulus dari perguruan tinggi dengan gelar Sarjana Ekonomi (SE).

Tak ada secuil pun uang yang pernah saya berikan kepada Hidayatullah untuk biaya-biaya tersebut. Hidayatullah pun tak pernah meminta sepesarpun biaya kepada saya untuk melunasi hal apapun yang sudah diberikan. Semua gratis.

Bukan saja kebutuhan pendidikan. Saya pun mendapatkan tempat tinggal yang amat sangat layak dengan fasilitasnya yang sangat lebih dari cukup. Mulai dari kebutuhan konsumsi, belas kasih, hingga pakaian kami pun disiapkan. Semua dipenuhi oleh Hidayatullah.

Kami dididik oleh para guru yang sungguh sabar dan penuh keuletan. Pernah kami kena pukul atau hukuman lainnya, tapi lebih banyak kami mendapatkan elusan, wejangan dan penerimaan apa adanya terhadap kami yang amat terbatas kemampuannya.

Terutama saya ingin menyampaikan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur. Di pesantren ini saya menyelesaikan pendidikan SD, SMP hingga SMA. Para guru-gurunya yang luar biasa.

Ada Ustadz Jamaluddin Ibrahim selaku pimpinan pondok yang saya anggap sebagai orangtua sendiri. Saya amat segan dengan beliau. Ada Ustadz Sofjan Sumlang, yang kebanyakan santri menganggap beliau galak tapi sungguh hatinya amat lembut. Beliau memang disiplin dan keras dalam menerapkan peraturan. Tapi di balik perawakan dan suara alto berat yang paling ditakuti santri, beliau sosok yang sangat peduli. 

Ada juga sosok Ustadz Usman Sulaiman. Beliau ini luar biasa. Ketika saya tak punya celana sama sekali karena memang stok celana hanya 2 stel dan itupun sudah lusuh, beliau belikan celana. Itulah celana andalan saya. Beliau juga yang mengajarkan keberanian bertemu orang.

Ada sosok Ustadz Darwin. Sekarang namanya diubah menjadi Firdaus, karena nama Darwin dianggap kurang pas. Beliau ini sangat sabar. Ketika mengajar, ketika di lapangan, ketika di asrama. Itulah juga barangkali rahasia beliau sehingga selalu nampak muda dan riang.

Ustadz Firdaus pernah mengajarkan doa yang amat berkesan pada kami santrinya. Kami hafalkan. Kurang lebih kalau dalam bahasa Indonesia, doa tersebut berbunyi:

Ya Allah, ampunilah aku, ampunilah orangtuaku, ampunilah saudara-saudaraku di Hidayatullah dan ampunilah kaum muslimin. Ya Allah tolonglah aku, tolonglah orangtuaku, tolonglah lembaga Hidayatullah dan tolonglah atas segala cobaan dan kesulitan kaum muslimin"

BERSAMBUNG