Minggu, 25 November 2018

Sayonara Gunung Tembak

SIANG ini tiba tiba hatiku berbeda. Haru biru, ku ingin menumpahkan tangis. Ada rasa yang sukar dibahasakan. Amat cepat rasanya waktu ini berlalu.

Ini Ahad yang sulit kulepas. Detak waktu yang kuharap tak lekas berlalu. Terik langit Gunung Tembak menusuk sejatinya, tapi siang ini ia hadir kelabu. Menerabas. Lembut luruh.

Oh, Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, mengapa engkau begitu mempesona.

Lima hari di sini kerasa hanya berbilang senti. Pendek sekali. Sementara rindu ini tak mau berkompromi. Selamanya ingin di sini.

Rindu ini menyiksaku. Siksa yang nikmat. Aku tak punya cukup kosa kata mendiagnosa lintasan relung ini, tapi kuyakin ini bukan semata bersit dan lenyap ke hadirat yang iradat. Bukan sembul biasa. Ia tumbuh bersama keping tunas peradaban yang kita damba itu.

Aku berkeliling. Berbunga hati diserbu  salam tak henti. Satu langgam doa sarat dimensi.

Kulihat danau indah dan nampak bidadari kecil di seberang sana. Kulihat juga rumah rumah di kawah ini jauh dari kata mewah. Beberapa reot, ragamnya serupa cipta, dengan dinding-dinding yang digasak rayap coptotermes tanpa ending.

Di rumah rumah itu tak henti, tamu dijamu silih berganti. Mulai dari sekedar numpang "setor tunai" atau menyantap mihun dibungkus tahu isi ditemani kopi. Jangan tidur pagi. Cobalah jalan jalan di pagi hari, kau akan ditangkap dipaksa mampir.

Silatnas kita tahun ini dalam meninggalkan kesan. Menyisakan rindu yang sulit diredam. Gunung Tembak selalu tertawan, di hati hati kami yang kini telah beranjak pulang. Kembali ke medan juang. Dengan kapal dan pesawat terbang. Bahkan dari Kalbar ada yang motoran.

Di malam pertama. Ust Hasan Ibrahim menyapa hangat. Juga Ust Abdul Latif Usman, ayahanda kita semua. Mewakili warga Gunung Tembak, ketika berdiri di atas mimbar. Menyampaikan ucapan ahlan wasahlan. Seharusnya kata itu cukup sampai di situ.

Kami yang datang amat bahagia. Telah disambut penuh suka cita. Dijamu penuh seksama.

Janganlah minta maaf, ayahanda, karena khawatir ada pelayanan panitia atau tuan rumah yang belum memadai.

Tak ada yang kurang, ayahanda. Sambutan dan pelayanannya sudah lebih dari cukup. Kami antar sesama peserta bisa saling  berkhidmat, saling traktir. Saling membantu. Setidaknya, disinilah khidmat kami.

Janganlah minta maaf. Justru kamilah  yang harus minta maaf. Kami datang tak membawa apa apa. Bahkan sekedar gula gula.  Kami malah datang dengan angkuh, lalu menuntut pelayanan sempurna penuh.

Dengan segala keterbatasannya, saban waktu panitia tunggang langgang memberikan pelayanan. Melakukan penjemputan. On time hingga malam kelam. Berjaga memastikan tak ada peserta yang hilang.

Ada pula anak anak muda Pandu Hidayatullah yang selalu menyapa dengan salam. Senyumnya anggun. Ibadah tekun. Gemar membantu. Tak kenal lelah berjaga dan memberi pelayanan. Di tangan kalianlah masa depan Hidayatullah.

Terimakasih kami sampaikan kepada segenap panitia yang telah bekerja keras mensukseskan acara dengan segala daya dan upayanya.

"Berkhidmat Untuk NKRI Bermartabat" tema besar Silatnas kita. Tema dengan muatan pesan pencerahan (ad-dakwah at-tanwiriyah) seperti pesan Prof Din Syamsuddin kemarin.

Tema yang kian menyadarkan kita bahwa berkhidmat adalah karakter kita. Budaya kita. Warna kita. Ciri khas kita. Dan, harus menjadi milik kita.

Silatnas kita telah usai. Namun silaturrahim kita tak pernah selesai.  Dakwah kita akan selamanya membumi. Ukhuwah terpuji. Selamanya dalam sinergi dalam dekapan Ilahi.

Semoga tak ada lagi shaf kita yang renggang. Tak ada lagi riung halaqah yang diametral seolah tak saling kenal, melainkan kukuh dalam rapat menutup segala celah yang bisa diacak-acak setan banal.

Selamat berjuang, sahabat!

==========