Jumat, 19 Agustus 2016

Adi Sasono dan Kemandirian Bangsa

SAMA sekali tak terduga silaturrahim ke kantor Coop Indonesia Foundation di bilangan Sudirman pada September (07/09) tahun lalu merupakan pertemuan terakhir kami dengan almarhum Adi Sasono yang juga pendiri yayasan tersebut .

Kedatangan kami untuk menyampaikan undangan kepada almarhum menjadi pembicara seminar kepemudaan yang kami gelar sekaligus memanfaatkan kesempatan menggali ilmu dan meminta nasihat beliau yang, bagi kami, merupakan figur ayah dengan kedalaman pengetahuan dan segala kebersahajaannya di usianya yang tak lagi muda.

Sambutan beliau ketika itu luar biasa. Meski terpaut usia cukup jauh, rombongan kami yang anak muda diperlakukan layaknya kolega seusia yang lama tak bersua.

Almarhum menerima kami dengan sehat bugar. Duduknya tegak. Senyum khasnya selalu terlontar mengiringi seloroh dalam rangkaian wejangan-wejangan yang disampaikannya. Pun begitu langgam suaranya terdengar fasih. Tidak ada yang kurang sama sekali.

Qadarullah, pamitan beliau pergi lebih dulu karena sebuah urusan di tengah kami sedang santap siang yang sengaja dihidangkannya pada kami usia pertemuan siang itu, rupanya menjadi ucapan pamitan beliau pergi selamanya.

Harapan Bangsa
Mantan Menteri Koperasi dan UKM era Kabinet Reformasi ini mengingatkan bahwa anak muda merupakan harapan bangsa. Almarhum meminta pemuda membangun semangat kemandirian. Karenanya, dalam pertemuan itu, beliau mendorong kaum muda terus berfikir kreatif untuk kemaslahatan bangsa.

Beliau menegaskan, masa depan kita tergantung kita, bukan tergantung orang lain. Begitupun bangsa ini yang menggantungkan masa depannya di pundak para pemuda hari ini.

Adi Sasono mengemukakan tantangan masa depan bangsa ini terletak pada keinginan yang dilatari kesadaran menjalin kesepahaman dan menguatkan integrasi gerak anak bangsa. Sehingga kemudian berbagai upaya pihak lain untuk memecah belah kita bisa dienyahkan.

Kerap gaduhnya kita di muka publik boleh jadi memang karena ada pihak sengaja mendesain situasi demikian. Terutama kita terus diadu domba sebab cara ini terbukti mustajab mendera bangsa ini berada dalam kungkungan penindasan bangsa lain hingga berratus tahun lamanya.

Penjajah Belanda yang datang ke Indonesia “hanya” 200.000 sebagaimana statistik tahun 1930, dan saat itu rakyat kita sudah 60 juta. Tapi, kenapa Belanda bisa menjajah kita. Menurut Adi Sasono, karena politik devide et impera. Kita  dipecahbelah. Akhirnya kita malah saling bertarung sendiri. “Kita dijajah karena kalah pinter,” ujar Adi Sasono ketika itu.

Tak kurang Adi Sasono pula menyorot masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia yang dipandang dapat saja berekses buruk terhadap stabilitas nasional. Jika ditilik dari logika investor, hal itu memang masuk akal. Namun hal ini bukan gejala umum yang jika dibiarkan bisa menjadi umum. Masuknya pekerja asing ke Indonesia dianggap Adi Sasono sebagai kasus yang harus diwaspadai tidak bisa diterima sebagai sebuah gejala umum.

Ketergantungan pada pihak luar sejatinya dapat dieliminir sebab kita punya semua syarat untuk menjadi bangsa yang mandiri. Namun, faktnya, jauh panggang dari api. 

Dalam soal ketergangungan pada mata uang asing misalnya seperti dolar. Kata Adi Sasono, kita menjadi sakit kepala karena dolar naik sebab dalam komsumsi kita ada komponen impor yang seharusnya tidak perlu.

Padahal sejak zaman Majapahit kita tidak pernah impor. Bahkan kita bisa mandiri bahkan mampu membangun armada dahsyat waktu itu dan jadi penguasa di Asia Tenggara. Begitu pula di masa kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh.

Menurut almarhum, ketergantungan pada asing tersebut sejatinya dapat diurai dengan kembali kepada semangat dasar ekonomi kita yaitu meningkatkan ekonomi domestik yang membuat posisi perdagangan internasional hanya rangkaian ujungnya saja.

Teladan Pemimpin
Memperhatikan jejak rekam kepahlawanan dan terutama komitmennya dalam advokasi agresifnya dengan menggerakkan gerakan “ekonomi rakyat” untuk menjungkal hegemoni ekonomi kaum kapitalis borjuis, kami memandang figur dan corak kepemimpinan almarhum Adi Sasono perlu menjadi tolak ukur bagi anak muda Indonesia.

Pendiri Centre for Information and Development Studies (CIDES) ini terbukti berhasil meletakkan pondasi keilmuan sehingga banyak lahir intelektual muda dari CIDES sejak berdirinya. Almarhum juga dipandang sukses meregenerasikan kehebatannya kepada anak muda.

Uraian ini sejatinya lebih mengetengahkan serak risalah sebagian kecil gagasan Adi Sasono yang tentu perlu terus digali dan dikembangkan. Himpun pemikiran tak kalah mendasar lainnya yang dikemukakannya sekaligus menutup catatan ini, adalah optimisme beliau memandang Indonesia yang menurutnya punya segalanya untuk melawan ketergantungan terhadap asing.

Setidaknya ada dua haluan fundamental untuk menghilangkan atau setidaknya mereduksi ketergantungan tersebut lalu kemudian berdiri tegak di atas prinsip relasi interdependensial. Pertama, keswadayaan nasional. Dan, kedua, kita harus membangun kemandirian.

Untuk menguatkan keduanya kita perlu menyiapkan sumber daya manusia yang selain siap tarung, juga tinggi cintanya pada pertiwi yang nasionalismenya tak sebatas melodi. Disinilah momentum kebangkitan kita. Selamat HUT Dirgahayu RI ke-71, Merdeka!