DERITA orang kecil yang menjerit-jerit akhirnya sampai juga ke telinga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Amien Rais.
Tokoh pergerakan melawan totaliter-otoriatarianisme rezim orde baru yang dijuluki sebagai bapak lokomotif reformasi ini pun “turun gunung”.
Dengan semangatnya yang ingin melakukan amal makhruf nahi munkar demi kebaikan bangsa ini, wajar banyak orang yang menaruh harapan besar padanya termasuk oleh wong cilik yang merasa tak lagi ada yang mau mendengarnya.
Namun, bukan Amien Rais namanya kalau tidak blak-blakan. Barangkali tepat kata orang, urat takut Amien memang sudah putus.
Tak heran, ia mengkritik keras kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama atau Ahok, yang dinilai telah banyak mengabaikan harapan wong cilik ini.
Pada bulan April (24//04/2016) lalu dalam acara Muhammadiyah dan Aisiyah di Temanggung, Jawa Tengah, mantan Ketua MPR RI ini mengkritik Ahok dan menilai sikapnya sangat arogan, senang menantang berbagi pihak, bahkan terkesan meremehkan lembaga negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan terkait hasil audit Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat.
Amien mengatakan Ahok tidak layak menjadi pemimpin lantaran sikapnya yang kerap "nyeleneh" dan memicu timbulnya kontroversial. Amien menegaskan dengan mengatakan bahwa kritiknya tersebut bukan masalah SARA.
Dikatakan Amien, tidak hanya sikapnya yang keras kepala, Ahok menurutnya satu-satunya pemimpin yang merasa paling benar dan ingin memboyong kebenaran menurut kacamatanya sendiri.
Amien meminta semua pihak untuk bersatu menghentikan sikap kontroversial Ahok akibat kata-kata serta ucapan kotor yang kerap dilontarkannya.
Amien Rais khawatir jika kembali terpilih menjadi gubernur DKI, mantan Bupati Belitung Timur tersebut akan berkelakuan bengis, beringan, dan menghina bangsa Indonesia.
"Kalau saya orang Jakarta, pasti akan turun gunung, sayang saya orang Yogyakarta," kata Amien seperti dikutip Tempo.co.
Amien Rais mengkritik Ahok sebagai orang yang sombongnya luar biasa hingga menyundul langit.
Jika ditilik, kritik-kritik Amien Rais itu kelihatannya memang cukup relevan dengan realitas sosial yang ada.
Penolakan dan maraknya aksi protes warga menujukkan massifnya resistansi warga DKI terhadap kebijakan Ahok yang kerap kali menuai kontroversi.
Sebagai seorang tokoh dan figur sentral dalam gerakan reformasi yang telah mengantar bangsa ini ke dalam siklus demokrasi seperti saat ini, kritik Amien Rais kepada pemimpin DKI Jakarta itu tentu sah-sah saja.
Langkah Amien ini menunjukkan bahwa komitmen dia terhadap reformasi, demokrasi, penegakan hukum dan keadilan sosial tak pernah lekang. Dimana di waktu yang sama, umumnya tokoh tak lagi lantang dan berani bersuara.
Permainan Media
Tapi ada hal yang rasanya tak adil. Entah berangkat dari mana, sejumlah media arus utama membuat semacam insinuasi menyimpulkan beragam kritik Amien itu sebagai serangan.
Diksi “serangan” ini terasa problematis dan menyiratkan keganjilan. Kesan yang muncul, pertama, upaya saling menghadap-hadapakan. Kedua, dan ini yang amat terasa, menihilkan konteks dari kritik yang telah diutarakan.
Kritik yang diutarakan Amien Rais sejatinya kontra-narasi dari serangkaian opini yang terus berkembang massif di berbagai platform media.
Sedikit sekali -jika tak mau menyebut tidak ada- narasi penyeimbang untuk meng-compare narasi media arus utama yang nyaris seragam. Kedatipun penerapan cover both side tetap ada, namun ia tak lebih dari sekedar bianglala konstruksi dari suatu wacana.
Jika kinerja seorang pemimpin diindikatori oleh tren pembangunan yang baik atau entusiasme masyarakat terhadapnya, maka indikator ini tak nampak di sini. Tapi tentu ada saja cara untuk mengelabui hal tersebut dengan mengkonstruksi opini yang dipublikasikan media.
Jadi, jelas. Umpanya, konstruksi wacana “saat warga berbondong berfoto selfie”, adalah opini yang dipublikasikan, bukan opini publik yang mengejawantah bahwa ada kecintaan yang begitu tinggi dari masyarakat.
Ada upaya rasionalisasi politik atas figur yang selama ini tak disukai dan –entah dengan kekuatan apa- ia menjadi media darling.
Namun kalau kita cermati, sesungguhnya, media-media yang memiliki kecenderungan keberpihakan kepada sosok ini, notabene pembacanya adalah mayoritas dari kalangan mereka juga. Ini ditandai dengan emoticon persepsi yang tertaut di setip artikel mereka yang selalu jika menyangkut sisi positif sang calon selalu mendulang ekspresi “senang”. Dan jika sebaliknya, yang muncul adalah “tidak peduli”.
Tidak boleh kita lupakan bahwa masyarakat kita sudah sangat cerdas dengan pilihan dan kesadaran politik masing-masing. Berbagai rasionalisasi yang diupayakan oleh media-media partisan ini untuk mencitrakan calon mereka, ini tak akan mampu menggoyahkan kebenaran hakiki.
Rasionalisasi itu beragam cara. Dulu kita pernah dihebohkan dengan berita Lembaga Politik dan Psikolopgi Unibersitas Indionesioa yang merilis calon gubnernur terburuk untuk DKI Jakarta.
Upaya ini, bagaimana pun, nampak sekali sebagai upaya demoralisasi terhadap lawan-lawan politik si media darling. Lihat saja tajuk “penelitiannya”, calon gubernur terburuk di benak masyarakat”.
Sayangnya, tak banyak akademisi yang sedikit waras mengkritisi hal tersebut yang jelas-jelas menbcoba menarik-menarik lingkungan kampus masuk ke dalam ranah politik.
Anehnya, ketika muncul campaign seorang mahasiswa yang kebetulan mengenakan almamater kampus menyuarakan ketidak bolehan memilih pemimpim kafir, respon orang begitu meriahnya.
Mahasiswa ini sontak dirisak massal tanpa ampun. Tak kalah sadisnya, Ahok mencemooh anak ini agar pindah ke Timur Tengah yang tentu hal itu mengesankan adannya nuansa rasisime di situ yang sementara selama ini dia seringkali berteriak anti SARA.
Termasuk dalam masalah Amien Rais dengan kritik-kritiknya yang tajam. Kenapa media kemudian lantas membingkai hal itu sebagai bentuk serangan kepada Ahok.
Muncul pertanyaan, kenapa media-media itu tak segencar dan sekuat pembingkaiannya atas pernyataan Ahok di sebuah stasiun televisis swasta yang memuntahkan kata-kata yang jauh lebih sadis ketimbang apa yang disampaikan Amien Rais.
Bayangkan, ungkapan “tai, bangsat, bajingan,” itu dilancarkan di muka, melalui frekuensi publik. Tapi sepi gorengan media. Tak disoal bahkan hilang begitu saja.
Tapi sudahlah. Kita tengah berada di zaman yang sarat dengan proxy war. Kebenaran menjadi monopoli media, yang menelikung substansi dan merendahkan akal sehat.
