WAKTU begitu cepat berlalu. Baru kemarin rasanya aku mengajarinya mengeja satu demi satu huruf Hijaiyah dengan terbata bata, lelaki itu kini ia telah tumbuh dewasa dan terus berikhtiar menjadi pembelajar Al Qur'an.
Baru saja rasanya kemarin ia mengajakku memainkan stik Play Station sepulang sekolah SD-nya di YPPSB KPC, kini ia telah memulai pengalaman baru di sebuah perusahaan multinasional.
Dan, hari ini, adalah hari bersejarah baginya.
Dia memulai kehidupan barunya. Ia mengikrarkan aqad nikah dengan mempersunting seorang wanita pilihannya, Nur Aini. Perempuan Bugis Bengalon yang belum lama dikenalnya.
Namanya Achmad Syuqran. Lelaki itu. Dia anak pertama dari kakak pertamaku. Dia juga keponakanku yang lahir pertama dari 6 bersaudara.
Masih segar dalam ingatan ketika ia dilahirkan di dusun Kampung Masjid, Santan Tengah. Sebuah desa yang asri dan amat nyaman di Kecamatan Marangkayu.
Seingatku, dia lahir tahun 1997. Persisnya aku lupa, tapi sepertinya pada bulan Oktober. Koreksi ya kalo data angka ini keliru. Yang jelas, aku menyaksikannya. Dia lahir dengan conehead yang umum terjadi pada proses persalinan normal.
Detik detik kelahirannya, aku mengamati, orang orang sempat panik luar biasa karena persalinan yang cukup lama yang ditangani apa adanya oleh "bidan" desa yang biasa disebut dukun beranak.
Alhamdulillah, hari itu semua senang melihatnya lahir dengan selamat. Pun sang ibu, yang tentu mengalami kelelahan luar biasa setelah berjuang antara hidup dan mati.
Singkat cerita....
Setelah kelahirannya, aku tak banyak interaksi dengan si bayi mungil ini karena orangtuanya harus kembali ke Sangatta, Kutai Timur, tempatnya mengais rezeki berkah Ilahi.
Selain itu, trimester pertama kelahirannya juga lebih banyak dijalani di rumah Mak Aji dan Puang Haji Abubakar. Aku sendiri tak lama setelah itu, ketika naik tingkat ke kelas 5 SD, masuk pesantren.
Kendati tak banyak bersua, namun aku selalu merindukan, gemes, dan acapkali terngiang dengan kelucuannya.
Ada satu foto wajah mungilnya yang selalu mampu mengobati rasa rindu itu, bahkan tak jarang aku meneteskan air mata tiap kali menatapnya. Entah mengapa, ini serius.
Foto itu, dia sedang berada di atas motor di depan sebuah bangunan rumah panggung. Wajahnya tersenyum sambil memegang tengah body stang motor. Tiap kali melihat foto itu aku selalu ikut tersenyum. Bahagia sekali rasanya.
Diantara keponakanku yang lain, aku mungkin paling dekat dengannya. Orang yang paling sering aku nasihati, candahi bahkan marahi, namun ia selalu mampu menjadi lawan diskusi terutama setelah dia sudah kuliah.
Meskipun jika aku perhatikan, dia sebenarnya tipikal orang yang tak terlalu banyak bicara bahkan cenderung pendiam. Ia lebih banyak menimpali lawan bicara dengan senyuman dan sesekali ber-"mmm.." seraya tak menyurutkan fokusnya.
Ada satu hal lagi yang tak pernah kulihat dari anak ini, yaitu tidak pernah marah. Bahkan mendengarnya berteriak termasuk ke adik adiknya pun jarang, untuk menyebut tidak pernah. Jikapun marah, tetap terlihat seperti tidak marah.
Pembawaannya selalu santai, murah senyum dan tak pernah kudengar membicarakan orang lain. Dia juga selalu mampu menjadi pendengar yang tekun.
Pada suatu hari. Aku kebetulan libur dari pondok dan memilih ke Sangatta. Bocah ini masih SD ketika itu, tapi sudah selalu tampil rapi. Sisiran samping kanan rambutnya kian menambah kilau sinar jidatnya yang sedikit nongol.
Salah satu ritual yang selalu menarik adalah ketika ayahnya, Daeng Nurung, mengajak kami melingkar bertiga lalu membahas berbagai topik, salah satunya tentang filosofi shalat.
Syuqran selalu serius menyimak. Akupun demikian. Penjelasan mengenai filosofi shalat dari Daeng Nur itu terus melekat dalam benakku hingga kini. Semoga pun demikian dengan Syuqran.
Banyak sekali pengalaman dan kesanku pada cucu dari KH Abubakar, tau panrita yang merupakan anak keturunan dari Haji Muhammad Husain (Lato' Huseng) yang mendirikan Kampung Santan yang konon diberikan langsung oleh raja Kutai Kartanegara ketika itu.
Aku tak sempat menguraikan semua pada kesempatan ini. Tulisan ini pun rasanya sudah terlalu panjang.
Mungkin di waktu yang lain aku akan menulisnya. Karena itu, aku ingin mengakhiri saja coretan sederhana ini sebelum semakin panjang.
Di akhir celoteh ini, aku ingin berpesan kepada Achmad Syuqran sebagai pengantin baru.
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan, kemuliaan, kasih sayang dan maunah-Nya. Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fi khoir.
Pernikahan tidak saja tentang keindahan, kesenangan, romantisme dan pertemuan halal antara dua anak manusia untuk menyatu dalam bingkai keterpaduan.
Engkau juga harus ingat, pernikahan juga adalah tentang penerimaan, saling pengertian, kesalingterhubung antar keluarga, dan, terutama kerelaan.
Itulah sebetulnya cinta. Yaitu kerelaan untuk menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan. Itulah mengapa bahtera rumah tangga juga adalah madrasah bagi kita untuk berikhtiar menuju perbaikan diri karena tidak saja di dunia kita ingin bahagia, kita juga mau masuk surga bersama.
Ingatlah. Pada perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, engkau tidak selalu berhadapan dengan laut yang tenang. Pada kali waktu, engkau pun pasti akan menghadapi gelombang samudera silih berganti.
Disitulah kita diuji, maka kuatkanlah diri dengan bekal ilmu, iman dan amal dalam menghadapi ombak. Ingatlah filosofi bahwa pelaut ulung tidak pernah lahir dari laut yang tenang.
Jadilah suami yang kuat, tekun, terus belajar, dan, yang paling penting, sabar. Begitupun dengan ananda Nur Aini, semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah mawadah warahmah.
Engkau adalah pasangan muda, namun kedewasaan kalian sejatinya telah melampaui usia kalian. Kedewasaan itu kemudian menumbuhkan ketenangan, keberanian dan keyakinan hingga kemudian keputusan ini diambil.
Disitulah aku sebagai paman Ladusing merasa sangat bangga, kalian telah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan insya Allah semakin baik.
Satu hal lagi. Jagalah selalu jalinan silaturrahim karena engkau telah menjadi bagian darinya, dan begitupun dirinya telah menjadi bagian darimu. Satu kesatuan tak terpisahkan.
Syuqran, Nur Aini...
Selamat Menempuh hidup baru. Selamat mengarungi lautan bahtera rumah tangga yang syahdu dan penuh rindu. Semoga bahagia selalu dalam dekapan keberkahan Allah Robbul 'Alamiin.
Mohon maaf pamanmu yang suka iseng ini tak sempat menyaksikan secara langsung momen bahagia kalian.

