Selasa, 20 April 2021

Takut Pak Mannan


HARI
 SELASA. Tanggal 20 April 2021, hari kesedihan nasional bagi keluarga besar Hidayatullah. 

Tepat pada 8 Ramadhan 1442. Sore itu, Ust Abdul Mannan meninggal dunia. Seorang ideolog. Sosok visioner. Kader terbaik Hidayatullah.

Saya tak ada hubungan darah dengan beliau. Bahkan, bagi saya, beliau sosok yang menakutkan. 

Iya. Betul. Pada awalnya begitu.

Saya selalu menghindari beliau dan berupaya bagaimanapun caranya agar tak berpapasan dengannya. 

Ketakutan saya ini tentu sesuatu yang berlebihan. Saya menyadari ini. Karena sejatinya, tak ada yang perlu ditakutkan dari beliau. 

Tapi. Entah kenapa, saya amat khawatir jika berjumpa beliau. Ada keseganan luar biasa yang sukar dibahasakan. Hal ini timbul sejak menjadi mahasiswa beliau di STIE Hidayatullah. 

Kendati rasa takut mendera, saya pula mendapati beliau sebagai orang istimewa. Beliau tak ada duanya. Disinilah, saya menjadi pengagum beliau secara diam diam. 

Sulit menemukan orang yang sekapasitas beliau, apalagi hari hari ini. Di masa kuliah, ruang dimana saya kali pertama mengenali beliau, kesimpulan saya terhadapnya: tepat waktu. 

Dari semua dosen, beliaulah yang paling menonjol. Disiplin waktu. Materinya up to date. Interaktif. Dan ini: terlambat masuk mata kuliahnya, out! 

Demikian pula kalau berpakaian tidak rapi. Beliau paling tidak tahan. Tidak diperkenankan masuk jam kuliahnya menggunakan baju lengan pendek. Aturannya begitu. Melanggar, berarti siap drop out. 

Beliau betul betul serius dalam mengajar. Totalitas. Tidak pernah libur bahkan di hari besar, selama ada jadwalnya ia pasti masuk. Tapi tetap dengan gayanya yang khas. 

Terkadang juga melucu, dan memang bener bener lucu. Tak jarang mahasiswa yang jadi bahan guyonannya. Kita semua bisa dibuat tertawa. 

Beliau pernah berkata di hadapan kami mahasiswanya bahwa apa yang ia terapkan untuk mahasiswa, itu pulalah yang diterapkannya pada anak anaknya. Termasuk dalam soal perkuliahan. 

Saking kerasnya cara beliau mendidik, bahkan mahasiswa yang sakit pun diberi tanda alpa di lembar absensi. Tidak ada istilah "izin" dalam kamus beliau. Selama masih bisa berjalan, harus masuk, bahkan bila perlu dengan merangkak, katanya.  

Hingga lapangan

Pada satu momen lainnya. Selepas Isya'. Malam itu jadwal mahasiswa latihan Thifan po Khan. Sang Pelatih, Pak Pufu, seorang kakek tua yang masih perkasa, belum tiba. Mahasiswa pun tampak berleha leha. 

Tiba tiba. 

"Pak Mannan sudah menuju lapangan," suara Rena Hadi Suyitno melengking mengagetkan teman teman mahasiswa yang masih di kamar. 

Sontak mereka berlompatan. Buru buru berganti pakaian. 

Mahasiswa kalah cepat. Pak Mannan sudah di lapangan dengan pakaian khasnya; celana panjang, baju kaos dalaman putih dibalut stelan jas blazer long coat warna abu abu. 

Yang terlambat, seperti biasa: ambil jatah push up. Bila posisi push up kurang presisi, disuruh nambah squad jump. Dipantau langsung oleh pak Mannan. Tidak ada yang lolos. 

Di Thifan, ada istilah turgul atau sparing partner. Semua peserta meriung dalam lingkaran besar di lapangan utara masjid Ummul Quro dan 2 petarung harus maju untuk saling berjibaku. 

Awalnya, Pak Pufu menawarkan siapa yang mau mulai. Semua bergeming. Saling tunjuk. Tak ada yang mau. Akhirnya, pak Mannan menunjuk langsung hidung mahasiswa. 

"Fiman, Yani, maju!," akhirnya Fiman Hadait dan Ahmad Yani yang disebut namanya oleh Pak Mannan maju ke ke tengah lingkaran. Mereka tarung bebas. Intinya, tidak boleh serang wajah dan sekitar kemaluan. 

Begitupun petarung petarung selanjutnya. Mereka dipaksa harus berani. Maju bertarung, dan mempraktikkan teknik yang sudah dipelajari. Pak Mannan memantau langsung sampai selesai. 

Saya sendiri sempat dapat jitakan di pundak kala beliau melakukan inspeksi barisan. Yang lain  dikagetkan dengan serangan tiba tiba ke perut atau punggung, untuk menguji kemampuan reflek. 

Bagi saya, momen setiap malam Kamis itu tak terlupakan. Betapa Pak Mannan begitu perhatiannya pada kemampuan dan kapasitas kami sebagai mahasiswanya. 

Bukan hanya di ruang kuliah. Ia mendidik sampai ke lapangan, bahkan memastikan keadaan kami hingga ke ruang ruang tidur kami. 

Ada juga kebiasaan beliau yang lain, yaitu inspeksi ke kamar kamar.  Kalau kedapatan ada yang masih tidur sementara azan sudah berkumandang, beliau lansung lempar menggunakan apapun yang bisa digunakan. 

Hal itu beliau juga lakukan jika melewati pos jaga malam yang berada di depan gerbang. Bahkan ia yang membangunkan orang yang seharusnya piket malam. Dia lempari pos denganbatu kalau melihat ada yang tidur.

Masih banyak sekali kenangan lain dan itu menjadi ingatan yang amat melekat bagi kami. Beliau memang penuh totalitas, dan itulah barangkali yang menjadikan sosoknya begitu menginspirasi bahkan setelah sepeninggalnya. 

Bicara kampus Hidayatullah Depok sudah pasti berbicara tentang Pak Mannan. Beliaulah tokoh pejuang yang merintis kampus itu, bersama dengan almarhum Haji Agus Soetomo yang juga pemilik sebagian besar lahan kampus Hidayatullah saat ini dan diserahkan semuanya untuk dakwah. 

Sosok Haji Agus Soetomo ini juga disebut oleh Pak Mannan pada pengantarnya di dalam bukunya "Era Peradaban Baru" sebagai sahabat sekaligus pembimbingnya. 

Hidayatullah Depok memang menjadi semacam mercusuar nasional karena kota ini menjadi kawasan penyangga Ibukota Negara. Kampus Hidayatullah Depok adalah hasil kerja orang-orang ikhlas yang di sana ada juga tumpahan peluh nama-nama lain seperti almarhum Budi Setiawan dan almarhum Usman Palese yang sudah mendahului kita. 

Pada awalnya, beliau, Pak Mannan, begitu menakutkan, hanya karena aku belum mengenalnya. Namun, setelah ia tiada, pesonanya tak akan pernah pudar.

Begitulah ketika orang orang baik meninggal dunia. Kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Nama yang terus disebut dan dikenang kebaikan-kebaikannya.