Pertemuan yang diramaikan oleh beberapa tokoh nasional yang sedang berencana mulai berkecimpung di dunia maya ini, secara spesifik membahas Twitter.
Acara yang sangat menarik, sebab, saya secara pribadi, baru kali ini mengikuti workshop semacam ini apalagi yang membahas teknologi internet.
Acara yang sangat menarik, sebab, saya secara pribadi, baru kali ini mengikuti workshop semacam ini apalagi yang membahas teknologi internet.
Yang lain, para peserta yang hadir ternyata kebanyakan masih belum melek internet, atau setidaknya belum punya akun Twitter.
Banyak hal yang menjadi catatan saya setelah mengikuti workshop ini. Yang saya maksud bukan catatan soal gelaran acara yang hanya digelar 3 jam ini.
Banyak hal yang menjadi catatan saya setelah mengikuti workshop ini. Yang saya maksud bukan catatan soal gelaran acara yang hanya digelar 3 jam ini.
Tapi lebih kepada catatan konstruktif dalam rangka mewujudkan harapan terwujudnya pola distribusi konten yang massif dan bermanfaat di dunia maya, tidak saja via Twitter.
Saya bersyukur dapat mengikuti acara ini, meskipun rasanya sangat singkat sekali. Pembicara yang hadir yaitu Bapak Deddy Rahman dan Bapak Noval Ramsis, dengan pembawaan materinya yang lugas, cergas, padat, dan tegas, semakin menggedor semangat peserta, khususnya saya, untuk mantap "bermain" di sini.
Faktanya, masih banyak dari kita yang berpandangan bahwa internet berbahaya dan teramat mengancam.
Saya bersyukur dapat mengikuti acara ini, meskipun rasanya sangat singkat sekali. Pembicara yang hadir yaitu Bapak Deddy Rahman dan Bapak Noval Ramsis, dengan pembawaan materinya yang lugas, cergas, padat, dan tegas, semakin menggedor semangat peserta, khususnya saya, untuk mantap "bermain" di sini.
Faktanya, masih banyak dari kita yang berpandangan bahwa internet berbahaya dan teramat mengancam.
Berangkat dari konklusi yang sempit ini, akhirnya tidak sedikit yang bertekat untuk tidak akan bersentuhan dengan internet.
Saya tidak tahu dari mana paradigma itu merasuk, tapi jelas pandangan tersebut sangat keliru.
Bermacam alasan yang terlontar. Kebanyakan berkesimpulan bahwa internet akan menjadikan penggunanya lalai, sibuk dengan internet, membuang-buang waktu, dan yang pasti: sarat pornografi.
Soal internet yang mendistribusikan konten asusila seperti ketelanjangan, kekerasan, dan juga visualisasi negatif lainnya, jelas ini tak bisa dibantah.
Bermacam alasan yang terlontar. Kebanyakan berkesimpulan bahwa internet akan menjadikan penggunanya lalai, sibuk dengan internet, membuang-buang waktu, dan yang pasti: sarat pornografi.
Soal internet yang mendistribusikan konten asusila seperti ketelanjangan, kekerasan, dan juga visualisasi negatif lainnya, jelas ini tak bisa dibantah.
Itulah mengapa, pemerintah pun sangat menyadari ini sehingga berkomitmen benar-benar menyaring konten-konten yang ada.
Sejak zaman Tifatul jadi menteri sampai Pak Rudiantara sekarang, mereka sama-sama memerangi pornografi.
Namun, kita juga jangan lupa bahwa di dunia nyata pun kita berhadapan dengan persoalan yang sama. Keluar rumah sedikit saja, kita sudah disambut dengan kangkangan paha.
Namun, kita juga jangan lupa bahwa di dunia nyata pun kita berhadapan dengan persoalan yang sama. Keluar rumah sedikit saja, kita sudah disambut dengan kangkangan paha.
Ketika di jalan raya, pusat perbelanjaan, pasar tradisional sekalipun, kita kerap diperhadapkan pemandangan yang menantang eksistensi iman seperti pakaian wanita yang minim, sembulan dada yang berontak. Pokoknya, Naudzubullahu minzalik.
Ada seorang politikus yang mengaku tidak mau bersentuhan dengan internet khususnya Facebook dan Twitter dengan alasan internet penuh dengan mudharat khususnya pornografi.
Ada seorang politikus yang mengaku tidak mau bersentuhan dengan internet khususnya Facebook dan Twitter dengan alasan internet penuh dengan mudharat khususnya pornografi.
Apalagi, akunya, beliau mengaku pernah mendapatkan email yang berisi foto-foto porno. Padahal, akunya lagi, dia tidak pernah sekalipun mempublikasikan email pribadinya kepada siapa pun.
Dari pengalaman tersebut, beliau pun sangat berhati-hati dengan internet. Kedati demikian, beliau tidak apriori sepenuhnya.
Dari pengalaman tersebut, beliau pun sangat berhati-hati dengan internet. Kedati demikian, beliau tidak apriori sepenuhnya.
Beliau menyadari sepenuhnya bahwa di mana pun pasti selalu ada tantangan. Artinya, ketika di dunia politik ada keburukannya, maka tentu di internet pun begitu.
Maka solusinya, kembali kepada users. Kita sebagai pengguna harus cerdas dan punya kemampuan filtering yang baik. Anda harus bisa memetakan mana yang bermanfaat buat Anda dan mana yang tidak.
Soal internet, Anda juga harus komitmen betul soal waktu. Banyak orang yang sudah gandrung dan candu akut dengan internet, yang akhirnya waktunya habis di sana.
Maka solusinya, kembali kepada users. Kita sebagai pengguna harus cerdas dan punya kemampuan filtering yang baik. Anda harus bisa memetakan mana yang bermanfaat buat Anda dan mana yang tidak.
Soal internet, Anda juga harus komitmen betul soal waktu. Banyak orang yang sudah gandrung dan candu akut dengan internet, yang akhirnya waktunya habis di sana.
Yang seharusnya di awal pagi dia menyelesaikan pekerjaan kantor dan kewajiban-kewajiban lainnya, tetapi karena sibuk di FB dan Twitter, akhirnya sampai sore dia hanya duduk tidak menyelesaikan apa-apa.
Tidak ada karya sama sekali hari itu selain bersandar dan rebahan menatap layar. Tentang yang satu ini, saya akan menulisnya secara mendalam di luar judul postingan ini.
Adapun soal catatan perihal sosial media yang saya kemukakan di judul tulisan ini, sayang sekali, saya belum bisa membeberkannya sekarang.
Adapun soal catatan perihal sosial media yang saya kemukakan di judul tulisan ini, sayang sekali, saya belum bisa membeberkannya sekarang.
Masih sedang saya persiapkan. Mungkin di lain kesempatan nanti saya akan paparkan di sini. Insya Allah.
Sampai ketemu di postingan berikutnya!
Sampai ketemu di postingan berikutnya!