Pagi buta itu, selepas sholat Shubuh, pria ini sudah memulai kegiatannya: ngepel lantai, nyuci piring dan gelas gelas, merapikan meja, dan seabreg pekerjaan rutin lainnya.
Dia hanyalah pekerja di bagian umum di sebuah perusahaan penerbitan dan kantor biro pers di Jakarta. Sehingga tugas tugasnya saban hari pun mencakup semua. Umum.
Selain ngepel dan nyuci cuci, ia juga kerap bertugas beli air minum galon, mengepak produk di gudang, mengangkut ke mobil, mengkoordinasikan kedatangan barang.
Dia hanyalah pekerja di bagian umum di sebuah perusahaan penerbitan dan kantor biro pers di Jakarta. Sehingga tugas tugasnya saban hari pun mencakup semua. Umum.
Selain ngepel dan nyuci cuci, ia juga kerap bertugas beli air minum galon, mengepak produk di gudang, mengangkut ke mobil, mengkoordinasikan kedatangan barang.
Bahkan melakukan distribusi ke berbagai agen. Ia menikmati itu semua sebagai sebuah pengabdian.
Ibrahim, sebut saja begitu nama pria berbadan subur ini. Dia mengaku sedang mencoba untuk bertahan berjibaku dengan kota metropolitan yang menguntit laku hedon ini, juga dengan romannya yang bengis tak tepermanai.
Dia sendiri, akunya pada kali waktu, sadar betul keadaan binal tersebut. Namun tekadnya yang hebat, ia pun tetap ajek hingga kini. Jakarta baginya, harus ditaklukkan.
"Hidup cuma sekali, Mas. Kita juga mati gak bawa apa apa kecuali amal sholeh," cetusnya saat berbincang dengan saya pagi itu.
Dari langgam bicara, ia memang bak bijak bestari yang mengalahkan pesona para habaib. Pesan pesannya begitu mengesan. Mengena dan tak jarang langsung mengalamat pada objek. Bahkan tak jarang menohok.
Misalnya, yang menohok, ia pernah menegur dengan keras seorang sopir angkutan jalur Bogor-Jakarta yang memutar musik heavy metal dengan cukup keras.
Ibrahim, sebut saja begitu nama pria berbadan subur ini. Dia mengaku sedang mencoba untuk bertahan berjibaku dengan kota metropolitan yang menguntit laku hedon ini, juga dengan romannya yang bengis tak tepermanai.
Dia sendiri, akunya pada kali waktu, sadar betul keadaan binal tersebut. Namun tekadnya yang hebat, ia pun tetap ajek hingga kini. Jakarta baginya, harus ditaklukkan.
"Hidup cuma sekali, Mas. Kita juga mati gak bawa apa apa kecuali amal sholeh," cetusnya saat berbincang dengan saya pagi itu.
Dari langgam bicara, ia memang bak bijak bestari yang mengalahkan pesona para habaib. Pesan pesannya begitu mengesan. Mengena dan tak jarang langsung mengalamat pada objek. Bahkan tak jarang menohok.
Misalnya, yang menohok, ia pernah menegur dengan keras seorang sopir angkutan jalur Bogor-Jakarta yang memutar musik heavy metal dengan cukup keras.
Padahal, di dalam mobil ada ustadz ustadz berjenggot dan anak-anak. Yang ditegur langsung nyetop tuh lagu seketika itu juga.
Ibrahim adalah anak laki laki yang sudah ditinggal wafat oleh kedua orangtuanya sejak kecil. Sejak SMP hingga lulus SMA ia bersekolah di pesantren.
Ibrahim adalah anak laki laki yang sudah ditinggal wafat oleh kedua orangtuanya sejak kecil. Sejak SMP hingga lulus SMA ia bersekolah di pesantren.
Paman dari ayahnyalah yang selama ini menjadi tamengnya.
Kondisi pelik macam itu tidak membuat Ibrahim senewen menjalani hidup. Ia tetaplah Ibrahim yang tabah, juga sabar.
Ia tetap bergairah menjalani hari hari yang berserak dengan ketidakmenentuan kondisi ini.
Saya mempunyai pengalaman menggelikan bersama beliau tapi sebenarnya ini contoh yang tidak baik.
Suatu saat, saat shalat Isya' berjamaah di sebuah masjid, kami sama sama terlambat (masbuq) 1 rakaat. Ada yang aneh yang saya rasakan saat shalat ini.
Kebetulan sang imam sholat membaca surah yang cukup panjang. Lelaki kelahiran Rembang yang berdiri di samping saya di shaft belakang, ini kepalanya terus menggegeleng-geleng seperti sedang menyayangkan sesuatu.
Apakah gelengan itu semacam isyarat keberatan dengan bacaan imam yang panjang itu? Wallahu 'Alam. Yang jelas saat itu kami memang sedang buru buru untuk sebuah tujuan penting.
Usai shalat, saya datangi dia. Saya tanya kenapa kok geleng-geleng sambil shalat.
Saya hanya tertawa saat anak muda ini menjawab memang mengaku cukup "menyayangkan" bacaan imam yang panjang.
Kondisi pelik macam itu tidak membuat Ibrahim senewen menjalani hidup. Ia tetaplah Ibrahim yang tabah, juga sabar.
Ia tetap bergairah menjalani hari hari yang berserak dengan ketidakmenentuan kondisi ini.
Saya mempunyai pengalaman menggelikan bersama beliau tapi sebenarnya ini contoh yang tidak baik.
Suatu saat, saat shalat Isya' berjamaah di sebuah masjid, kami sama sama terlambat (masbuq) 1 rakaat. Ada yang aneh yang saya rasakan saat shalat ini.
Kebetulan sang imam sholat membaca surah yang cukup panjang. Lelaki kelahiran Rembang yang berdiri di samping saya di shaft belakang, ini kepalanya terus menggegeleng-geleng seperti sedang menyayangkan sesuatu.
Apakah gelengan itu semacam isyarat keberatan dengan bacaan imam yang panjang itu? Wallahu 'Alam. Yang jelas saat itu kami memang sedang buru buru untuk sebuah tujuan penting.
Usai shalat, saya datangi dia. Saya tanya kenapa kok geleng-geleng sambil shalat.
Saya hanya tertawa saat anak muda ini menjawab memang mengaku cukup "menyayangkan" bacaan imam yang panjang.
Tapi saya ingatkan, walaupun tak setuju bacaan panjang sang imam, ia tak boleh bergerak macam-macam. Bisa batal shalat.
Untuk standar anak muda, saya melihat dia cukup relijius. Walaupun dalam beberapa sisi tetap memiliki kekurangan di sana sini. Tentu saja. Manusiawi sekali kan.
Ibrahim juga adalah anak muda yang mudah bergaul. Selain itu, ia juga sosok yang sangat menghargai persahabatan. Untuk yang satu ini, dia pernah berkata, "Uang tidak ada nilainya dibandingkan dengan persaudaraan,".
Pria yang kini sedang berdisiplin diet ini punya satu harapan besar. Ia bermimpi pada suatu saat kelak bisa melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi agar dapat mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan sanak kerabat yang sangat mencintainya.
Maju terus, Ibrahim!
Untuk standar anak muda, saya melihat dia cukup relijius. Walaupun dalam beberapa sisi tetap memiliki kekurangan di sana sini. Tentu saja. Manusiawi sekali kan.
Ibrahim juga adalah anak muda yang mudah bergaul. Selain itu, ia juga sosok yang sangat menghargai persahabatan. Untuk yang satu ini, dia pernah berkata, "Uang tidak ada nilainya dibandingkan dengan persaudaraan,".
Pria yang kini sedang berdisiplin diet ini punya satu harapan besar. Ia bermimpi pada suatu saat kelak bisa melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi agar dapat mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan sanak kerabat yang sangat mencintainya.
Maju terus, Ibrahim!
