Selasa, 10 November 2009

Reuni Pada Suatu Hari

Pagi terik menjelang siang itu hanyalah reunifikasi tak terencana.

Di teras rumah terbilang mewah yang terletak di atas laut Bontang Kuala, kami mengepalkan tangan, kemudian beradu kepalan, "Tos," demikian salam keakraban itu berlangsung. Terkesan keren memang.

Seketika pun tawa meledak, silang sengketa perbincangan berlangsung hangat. Percandaan berlangsung asyik masyuk.

Teh panas manis yang tersaji ruah di meja serta angin laut yang bertiup sepoi, kian menambah haru biru pertemuan di rumah rekan kami yang baru saja punya momongan pertama dari istri keduanya itu.

Sekitar 4 tahun lebih tak bersua, hari itu seolah menjadi ajang pemupus rasa kangen kami. Sebuah pertemuan di hari Jum'at yang cerah. Diskusi dan perbincangan berat tentang persoalan kenegaraan tak luput dari materi kami.

Ya, sebuah reuni yang tak terencana, memang. Namun, pertemuan hingga menjelang azan Jum'at itu memang bukan waktu yang lama.

Kami berbicara tentang keadaan masing-masing, posisi, rencana-rencana, capaian-capaian, mimpi-mimpi, suka-duka, tentang keuangan, negara, politik, perjuangan, kelembagaan, kehidayatullahan, konsistensi, dan memang sepertinya tak ada yang luput tampaknya dalam obrolan itu.

Di perkhataman pertemuan, sahibulbait memuliakan kami dengan santap siang yang dihidangkan selepas sholat Jum'at itu. Menu khas ala Banjarmasin tak mampu membuat kami bertahan lebih lama untuk hanya sekedar menatapnya.

Tak butuh waktu lama, ikan ikan bakar berbagai jenis itu pun dilicintandas. Nasi panas nan pulen yang melengkapi rauni kami siang itu mengalami nasib yang sama. Ludes.

25 September 2009, suatu siang yang penuh warna di Bontang Kuala, Kalimantan Timur. Sebuah reunifikasi yang tak terencana, namun sangat mewah dan penuh warna.

Terimakasih Mukhsin yang tampak selalu muda dan berenergi. Juga, Zaenal, yang senyumnya selalu mampu menaklukkan siapapun. Kalian memang sahabat yang selalu menyenangkan.