Selasa, 20 Juli 2021

Transkrip Sambutan Ust Nashirul Haq dalam Acara Taushiah dan Takbiran Ormas Islam


Kita senantiasa memuji dan mengagungkan Allah SWT dalam setiap keadaan yang kita hadapi. Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik dan sehat. 

Semoga yang sakit disembuhkan. Yang mengalami kesulitan dimudahkan dan telah dipanggil oleh Allah diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima amalnya dan mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya, Aaamin YRA.

Dalam kondisi yang kita hadapi seperti saat sekarang ini, spiritualitas dan kedekatan diri kita kepada Allah SWT itu harus lebih ditingkatkan, termasuk kesabaran dan sikap optimis menjalani kehidupan di hari hari mendatang karena kita yakin selalu ada hikmah besar yang terkandung di dalam setiap ketetapan dari Allah SWT.

Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwasanya setiap Allah menurunkan cobaan dan ujian ujian ada hikmah besar yang menyertainya. Sehingga sikap yang seharusnya dimunculkan adalah sabar, tawakkal dan optimis seraya berdoa semoha Allah SWT memberikan karunia yang lebih baik lagi.

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang diriwayatkan Imam Muslim 

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”

Bahwa orang beriman itu keadaannya selalu baik. Dalam keadaan ia susah mendapatkan ujian dan cobaan, ia bersabar dan itu baik baginya. Dalam keadaan ia mendapatkan kenikmatan dia bersyukur. 

Dalam mengarungi kehidupan ini selalu ada ketentuan Allah yang tidak bisa kita hindari, yang, boleh jadi, sebenarnya untuk kebaikan dan kemaslahatan hambanya namun hamba yang dhaif yang belum mengetahuinya. 

Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 216, 

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

"Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal menurut Allah baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal buruk bagimu. Allah Maha Tahu, sedang kita tidak tahu".

Mungkin kondisi yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi itu boleh jadi baik bagi Allah SWT agar kita bermuhasabah. Agar kita menyadari segala keterbatasan dan kelemahan kita. 

Oleh karenanya, dalam menghadapi pandemi covid-19 ini, ada beberapa hal yang harus kita sikapi. Yang pertama, kita harus memadukan antara ikhtiar dan doa secara maksimal. Dalam istilahnya, yaitu memadukan antara protokol langit dan protokol bumi. 

Segala bentuk ikhitiar dan doa harus dilakukan secara bersamaan. Protokol langit dalam bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Sedangkan protokol bumi adalah menjalankan protokol kesehatan sebagaimana telah kita pahami dan upayakan bersama. 

Jika keduanya sudah dilaksanakan secara sungguh sungguh, maka apapun ketentuan Allah SWT maka itulah yang terbaik di sisi-Nya. Maka salah satu doa yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam setiap kali seorang mukmin menghadapi musibah adalah Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ. Ya Allah,  berilah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.

Boleh jadi setelah ini Allah akan memberikan sebuah karunia bagi orang orang yang menjalaninya dengan penuh kesabaran, penuh optimisme dan penuh khuznudzon kepada Allah SWT. 

Yang kedua, kita harus menjadikan ujian ini sebagai wadah peningkatan kualitas iman sekaligus sebagai kafarat atas dosa dosa yang terdahulu. Bahwa seseorang itu diuji oleh Allah berdasarkan kadar kualitas keimanannya. Maka semakin kuat keimanan seseorang maka semakin berat ujiannya. 

Dan, bagi orang beriman, segala bentuk ujian itu dijadikan sebagai momen sebagai kafarat. Dalam banyak hadits disebutkan bahwa tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali menjadi kafarat baginya. Bahkan duri yang menusuknya pun akan menjadi kafarat atas dosa dosa yang telah lalu. 

Yang ketiga, dalam kondisi sulit seperti saat sekarang ini, mari kita manfaatkan untuk menggali potensi yang terpendam. New reality hari ini menuntut kita untuk berfikir dan bekerja secara cerdas, kreatif dan inovatif dalam menjalankan aktifitas kita sehari hari. Dalam kondisi sulit dan sempit pasti ada karya besar yang lahir. Pasti lahir orang orang yang hebat. Fainnamal usri yusra. Innama'al usri yusra. 

Ada orang orang hebat yang akan lahir dalam kondisi sulit seperti ini. Ada karunia Allah yang akan diberikan kepada orang yang tangguh menghadapi ujian seperti hari ini. 

Yang keempat, adalah ini menjadi momen untuk melakukan konsolidasi keumatan dan kebangsaan. Bersatu untuk kepentingan bersama, umat dan bangsa. Semuah pihak harus menghilangkan ego sektoral atau menegasikan kepentingan pribadi dan kelompok, apalagi dalam menghadapi pandemi seperti ini yang diperparah dengan krisis ekonomi. Maka, tidak etis, jika ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk kepentingan bisnis, politik dan sebagainya. 

Kita juga hendaknya mengakhiri polarisasi sisa sisa dari Pilpres kemarin yang membuat kita tidak bersatu dalam menghadapi problema bangsa kita dan dunia saat sekarang ini.

Maka, mari kita bersatu untuk kita teguh karena bercerai berai itu akan meruntuhkan kekuatan kita. Selama kita bersatu padu, maka Insya Allah, kita akan kuat dan Allah SWT akan senantiasa memberikan pertolongannya kepada kita. 

Mari kita rajut persatuan umat yang kita mulai dari ormas Islam, para pimpinan pimpinannya, Insya Allah kita solid, kita kuat, berwibawa, bermartabat dan meraih kemenangan bi idznillah, dan, Insya Allah, kita akan bisa menghadapi kondisi saat ini dengan sebaik baiknya.