DI LINGKUNGAN Pesantren Hidayatullah, ada kelakar jenaka yang
populer khususnya di kalangan para santri; patah leher. Seperti berzikir
khusyuk, memang, tapi sebenarnya berdengkur nikmat.
Frasa ini
sejatinya adalah seloroh sindiran untuk santri yang ngantukan. Umumnya
santri yang dijuluki demikian bisa tidur duduk bersila lepas shalat
dengan tengkuk layaknya patah.
Merujuk sejarah awal perintisannya tahun 1970-an, Pesantren Hidayatullah ketika itu masih berupa hutan belukar.
Karena
itu, alih-alih duduk di ruang kelas seraya mengkaji kitab dengan
khusyuk, orang-orang yang datang mau nyantri, ketika itu malah lebih
banyak kerja bakti membabat rumput dan berkebun.
Nah,
tersebab oleh kelelahan karena banyak bekerja di waktu terang hari
membuat santri bisa “patah leher” di mana saja bahkan tak jarang ketika
sedang shalat. Utamanya waktu tahajjud dan shubuh. Disinilah kemudian
istilah itu bermula.
Namun, sekarang kita tidak sedang membahas
itu. Belakangan menyembul gejala “patah leher” baru yang rasanya lebih
menarik untuk kita bincangkan.
Bedanya, patah leher era baru ini
bukan bermuasal karena olah fisik melelahkan, tetapi lebih dipengaruhi
gaya hidup modern yang oleh Sammy Margo dari Chartered Society of
Physiotherapy, Inggris, disebut sebagai fenomena text neck.
Istilah
text neck sebenarnya kali pertama dikemukakan oleh chiropractor (ahli
terapis tulang) asal Amerika Serikat, Dean Fishman. Fenomena yang
disebut Fishman sebagai epidemik global ini merupakan gangguan kesehatan
yang disebabkan oleh keranjingan gadget.
Peneliti di bidang ini
menitikberatkan kajiannya pada bagaimana penggunaan gadget/ smartphone
dapat mempengaruhi kesehatan terutama karena kepala yang kerap menunduk
dalam tempo lama.
Di sebuah laporan medis diketahui bahwa saat
kondisi normal, kepala kita beratnya sekitar 4,5 sampai 5,5 kilogram.
Pada saat menunduk sebanyak 15 derajat saat menggunakan ponsel, beratnya
menjadi 12 kilogram. Berat kepala dapat mencapai 27 kilogram jika
menunduk pada 60 derajat.
Bagi maniac, boleh jadi akan
segera menepikan riset-riset yang dianggap tidak penting dan mengganggu
tersebut. Tapi faktanya, memang, kita melihat dan juga mungkin merasakan
ada gejala abnormal terhadap pemanfaatan perangkat teknologi hari ini.
Tanpa
bermaksud menggeneralisir atau mencoba mendemoralisasi, namun kasus
asusila belum lama ini seperti prostitusi anak usia belia di apartemen
Kalibata City, praktik pelacuran kelas kakap oknum selebriti dan Deudeuh
Alfisahrin di Tebet, serta marak prostitusi online lainnya, adalah
fenomena gunung es yang terutama dipicu oleh “leher yang patah”.
Kita
melihat gejala bahwa ada hal ihwal gasal yang ironi dan patut
diperhatikan dimana umumnya anak-anak muda kita, nampaknya, -meminjam
istilah santri Hidayatullah- sedang terjangkit hawar patah leher.
Patah
leher di sini adalah padanan metaforis untuk sengaja mencela kita yang
tak sempat lagi menyapa kanan kiri. “Leher yang patah” telah menihilkan
kedekatan empatik dan di waktu yang sama menawarkan keramaian palsu. Tak
ternyana, ia kemudian terakumulasi menjadi egosentrisme akut yang tak
lagi menganggap penting relasi komunal.
Sehingga akhirnya
terjadilah, misalnya, peristiwa penelantaran anak meski orangtua secara
akademik (juga ekonomi) sangat mumpuni. Pun fenomena hunian indekos dan
apartemen yang menjadi tempat prostitusi di tengah pemukiman elit nan
ramai secara zahir.
Patah leher telah menggiring pribadi (dan
bangsa) menjadi tak acuh, menegasikan interaksi verbal, yang puncaknya
meminggirkan imanensi seraya memungut irasionalitas sebagai pedoman
arah. Lalu tak lama mencuatlah narasi angkuh: “Dosa urusan gue dengan
Tuhan, bukan urusan lu”.
Nahasnya, terdapat jurang menganga yang
sewaktu-waktu bisa saja menyedot anak-anak muda hari ini menjadi
“generasi patah leher” menahun. Kita jelas khawatir dengan masa depan
generasi bangsa yang tidak ringan di tengah jumpalitan anomali bangsa
ini.
Momentum Kebangkitan
Kita tentu khawatir akan sakit dan
meluasnya epidemi global text neck meski di Indonesia sendiri gangguan
kesehatan ini relatif baru terdengar.
Karenanya, sudah waktunya kita
untuk segera menegakkan leher yang sudah cukup lama menunduk. Mari
menengadah, mari berpaling ke kanan dan kiri. Sapalah istri, anak,
jenguk tetangga, sapalah setempat duduk kita.
Kita optimis di
tengah pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia yang menunjukkan
peningkatan grafik yang luar biasa dan umumnya dilakoni oleh anak-anak
muda kreatif. Namun di waktu yang sama kita miris dengan laku
pemanfaatan teknologi yang justru jauh dari kata smart.
Saat
ini ada setidaknya 30 juta orang remaja di Indonesia yang mengakses
internet secara reguler. Diprediksi masyarakat Indonesia saat ini
memiliki 75 juta pengguna internet, maka itu berarti hampir setengah
pengguna internet di negeri ini adalah remaja.
Dari data yang
dirilis Menkomnfo tersebut bisa ditebak anak-anak Indonesia, yakni kita
kita ini, telah menjadi konsumen jumbo untuk komoditas pasar global
termasuk di dalamnya gadget teknologi.
Tak heran setiap kali ada rilis
terbaru produk smartphone selalu ludes bahkan dalam hitungan menit.
Memang tak dielakkan, perubahan dalam dunia teknologi informasi selalu
mengalami percepatan setiap waktu.
Ekonom Muhaimin Iqbal
mengemukakan bahwa perubahan cepat semacam ini turut merotasi
jenis-jenis profesi yang juga berubah secara drastis. Dia mencontohkan,
hanya dalam dua atau tiga generasi di Amerika (sekitar 150 tahun),
pekerjaan petani yang dahulunya dilakukan oleh 90 % penduduk Paman Sam,
kini tinggal 2 %-nya saja yang tetap bekerja di sektor ini.
Dengan
perkembangan teknologi saat ini menjadikan berbagai profesi “terpaksa”
menyesuaikan diri dengan perkembangan agar tidak tergusur oleh solusi
teknologi sebagaimana tergusurnya sebagian besar profesi para petani di
negeri maju tersebut di atas.
Kita kini hidup dalam belantara
informasi. Namun, ditegaskan Muhaimin, bahwa di belantara era informasi
inipun petunjuk kita tetap sama, yaitu petunjuk Tuhan yang menjamin kita
tidak akan celaka, tidak akan tersesat, bersedih dan khawatir.
Mari
lebih sering memandang ke sekitar kita dengan mata hati dan rasa
empati. Mari mulai menyapa dalam dekat sebab kita masih punya asa dan
peduli sesama. Kiranya kepala masih terus menunduk dalam pekur sibuk di
ranah maya, kita rasanya pesimis kebangkitan bangsa mewujud nyata.
Saya
lalu teringat dengan pesan elektronik bergerak yang menempel pada panel
atap KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota sejak beberapa hari ini dalam
rangka menyambut peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada
tanggal 20 Mei.
Pesan itu berbunyi: Hanya Bangsa yang Sakit yang Tak Pernah Bangkit!
___________
Pasca sunting artikel ini telah dimuat pertama kali oleh portal nasional www.hidayatullah.com
